Hujan

Tampilkan postingan dengan label The Gift : My Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Gift : My Short Stories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2022

[Bicara Buku] Menyulam Penuh Cinta; Menyulam Pelangi


 Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

*** 
Menyulam Pelangi by Arina Hidayati
Beberapa hal membahagiakan; mendapat kado, misalnya. Hehe, seperti sebuah kado manis yang sy terima setahun lalu. Ya, Gaes! Ini akan menjadi sebuah catatan tentang sesuatu yang seharusnya sy lakukan setahun lalu. Ah, indah nian kado itu. Sebuah novel bertandatangan penulisnya dan dihadiahkan oleh penulisnya. Di hari ulang tahun penulisnya pula. Disampaikan oleh Pak Pos spesial yang saat kami remaja sering sy ajak ke rumah penulis novel tersebut. Nah, kurang istimewa apa coba kado tersebut? Arinnnnn, I love you, as always my dear friend :)

Thanks, My lovely Arin <3
*** 

Rabu, 22 Juni 2011

Kejutan

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
 
***
 
Kejutan
Oleh: Faricha Hasan

Sore tadi Ariel membawakan sesuatu untukku. Sekotak mungil yang dia genggam di tangan kirinya dan dia angsurkan ke telapak tanganku
"Bukalah saat menjelang tidur nanti," katanya
Aku tak sabar menanti malam. Aku ingin segera membuka kotak mungil berbungkus pink itu
Kini malam telah menjelang. Kantukku mulai menyerang. Aku bersiap membuka kotak itu, ketika tiba-tiba ringtone yang aku setel khusus untuk Ariel berbunyi.
"Ya?” sapaku dengan heran.
"Beib, maaf... salah ngasih kotak. Jangan dibuka ya. Pliss."
Omaygot.... Jadi apa isi kotak ini dan untuk siapa?

Rabu, 23 Maret 2011

Rumah Kaca Berselimut Embun

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah  yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***
RUMAH. 
Yupz, itulah tema yang diangkat dalam lomba nulis cerpen di akhir 2010 yang sy ikuti.
Hasilnya?
hehe..alhamdulillah tercatat sebagai PESERTA saja. 
Kali ini yang ngadain adalah komunitas Grup TAMAN SASTRA di fesbuk
Ok, deh!! Biar gak berpanjang lebar cz ntar jadi luas.. *geje* langsung deh..
***
Rumah Kaca Berselimut Embun
Faricha Hasan

Selasa, 22 Maret 2011

KOTA CANTIKKU PAGI INI

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah  yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
 
***
Kali ini tentang naskah cerpen yang lagi-lagi tereleminasi. 
*gak boleh sedih!!* 
Well, nih naskah pernah sy kirim buat partisipasi Lomba Cipta Cerpen FSS 2010
Bertema Imajinasi Tentang Kota.
***

Senin, 08 Maret 2010

A CONFESSION

‘sori, ak mw ngku, nih.. gk enk bgt klo kelamaan bo’ong..
Ehm, yg bnr tuh kmrn ak gk slh krm, tpi emg sngja ak krm n blng slh krim.. cuman mw sngja ngecek aja, tuh bnrn km ato bkn. Eh, trnyt km, trus emg bnrn tau ak.. tp kok, kya gk knal aja. Mkny, kmrn ak jg sok lom knl gtu.. sori.. tpi, yg td, npa d dpn bnyk org? haduh, ak bnrn gk tau, gmn msti blang, malu bgt..’



Itulah akhirnya yang aku ketik siang itu. Panas dan gerah yang menyerang sekujur tubuhku tak dapat mengalahkan panas yang menyerang hati dan fikiranku.Entahlah, aku tahu, hal ini bakal amat sangat memalukan. Tapi toh ternyata, alih² mendeletenya, aku malah menekan tombol send.

Message sent

Tulisan yang kemudian muncul di layar SE K508i black-ku.

Satu menit.

Dua menit.

Belum ada report kalo smsku benar² sudah terkirim. Dan itu artinya, dia belum menerima smsku. Aku buka kembali menu pesanku. Sent item. Dan tanpa pikir panjang. Aku menghapusnya. Ya, aku benar² merasa bahwa itu bukan tindakan yang menyenangkan. Mengirimkan sebuah sms pengakuan yang bakal amat sangat memalukan diriku sendiri. Semoga sms itu benar² belum terkirim, batinku. Seperti smsku yang lain, jika tidak ada laporan, maka sms itu tidak akan terkirim.

***


Beberapa jam sebelumnya….



“Bu Sarah, kemarin mau sms sama siapa?” tiba² saja sapaan di antara kerumunan guru² di depanku itu mengejutkanku. Aku memandangnya. Sosok yang sebenarnya sudah aku kenal. “Ehm, anda, ya?” tanyaku dengan pura² tak mengenalnya. Hampir saja aku menyebut nama yang ia katakan padaku. Nama samaran. Haydar. Tapi tidak. Aku tak akan membuatnya malu di depan banyak orang yang mengenalnya. Sebaliknya, aku benar² berusaha keras menyembunyikan rasa maluku. Entahlah, apa warna yang kali ini menyapu seluruh wajahku. “Maaf, Pak.. kemarin benar² tak sengaja.” Aku tetap berusaha tenang. “Tak apa lagi. Emang mau sms siapa?” dia tetap bertanya, dengan tanpa dosa, dan membuat guru² yang lain memandang aneh padaku. “ Ow, itu mau sms teman. Sekali lagi maaf, ya, Pak..!” aku tetap berusaha keras untuk sopan, tenang, dan menahan malu. Sesuatu yang teramat jarang berhasil aku lakukan. “Ya udah, saya ada jadwal ngajar lagi, nih. Mari semua!” aku mengedarkan pandanganku pada yang lainnya dan membiarkan mereka menitipkan pandangan aneh padaku. Aku harus secepat mungkin meninggalkan kerumunan tersebut. Meski sebenarnya aku masih ingin menengok anak² didikku yang mengikuti lomba kaligrafi.

Oh my God. Aku pergi dengan amat sangat malu. Bagaimana tidak coba, dia bilang, di depan banyak orang, yang beberapa dari mereka temanku, kalau aku kemarin telah salah kirim sms. Padahal faktanya, setahu mereka, kami belum saling mengenal. Ya meski memang benar, aku kemarin memang telah mengirimkan sms padanya.

***

Sehari sebelumnya….

Acara seleksi PORSENI tingkat kecamatan diadakan di sekolah tempat aku mengajar. Jadinya, banyak murid dari sekolah lain yang datang. Tentu saja, mereka didampingi oleh guru pendampingnya masing². Banyak guru dari sekolah lain yang belum aku kenal. Maklum, aku guru baru dan amat sangat jarang mengikuti pertemuan guru². Dan lagi, aku menghabiskan masa abu² putih dan kuliahku bukan di daerah tempat mengajarku ini. Jadilah, aku hanya mengenal beberapa gelintir orang yang bisa menjadi teman. Tidak seperti kebanyakan dari mereka yang memang sudah mengenal dari mulai SMA ataupun dari banyak kegiatan² lain.

Siang itu terik dan gerah. Jam pulang sekolah sudah tiba. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, aku memutuskan pulang. Sendirian, seperti biasanya. Lagian, mana mungkin aku menunggu jemputan ataupun teman pulang, rumahku dekat.

Seseorang tersenyum padaku. Ia salah satu guru yang menjemput anak didiknya. Dan aku membalasnya. Wajar bukan, seorang tamu tersenyum pada tuan rumahnya. Batinku. Tapi entah mengapa senyum itu membekas begitu saja padaku. Ya, aku mengenalnya, setidaknya, mengetahui siapa dia. Kalau aku tidak salah, firasatku mengatakan, dia orang itu. Seseorang yang beberapa bulan yang lalu pernah sms padaku, dengan tiba² bertanya alamat emailku. Dan kemudian beberapa waktu kemudian mengirimiku email.

Sampai di rumah, kurebahkan tubuhku. Dan tiba² aku kembali teringat Miya, seorang teman yang menjadi juri PORSENI di sekolahku tadi. Aku lupa, aku belum mengajaknya ngobrol tadi pagi.. Tanpa pikir panjang aku mengambil hp dan berniat mengirim sms padanya..

Ya, sori.. tadi lupa pamit.. hehe.. ntar klo uda slse smw, maen k rmh, y? Km uda lma gk k sni, kn?

Tapi, ntah ide dari mana, alih² memasukan nomor Miya, aku malah membuka phonebook dan memasukan nomor seseorang yang beberapa bulan lalu pernah sms dan meminta alamat emailku, yang siang tadi melempar senyum padaku.
Penasaran, itulah alasan awal aku membuat skenario salah kirim ini. Apakah dia mengenalku? Karena beberapa bulan yang lalu, ia juga pernah menulis email padaku dan kami saling bercerita tentang pekerjaan kami. Dari situ aku tahu bahwa ternyata ia seorang guru sebuah sekolah yang berada satu wilayah dengan tempatku mengajar. Dan tanpa sengaja, aku melihatnya beberapa bulan kemudian saat pertemuan guru². Aku tahu ia, setelah ia mengakui nama aslinya. Tapi aku tak yakin ia mengetahuiku. Awalnya, aman, itulah yang sempat terbesit di pikiranku saat, entah mengapa, aku membalas smsnya. Sms dari seseorang yang tak aku kenal. Padahal sebelumnya, aku akan berfikir seribu kali sebelum membalas sms tak dikenal.

Message sent.

Tulisan yang muncul di layar SE K508i-ku.

Beberapa detik kemudian,

Message delivered
Haydar Husain

Dan beberapa detik kemudian, dengan sigap aku mengetik sms lagi.

Sori, yg tdi slh krim

Message sent

Message delivered
Haydar Husain

Aku menunggunya dan tak ada balasan. Sungguh menjengkelkan. Menunggunya lagi dan tetap tak ada balasan. Oke, dia memang mungkin tak berniat membalasnya. Batinku masih dengan kesal.

Tit tut tit tut..

Ponselku bergetar.
Dia membalasnya.

Sori bru smpat bls. Tak apa lagi, Bu Sarah. Emg qt lma gk sms-an. Tdi kok sndri aja? Yg jmpt mn?

Ow ow.. tepat seperti dugaanku. Dia sudah mengetahui sosokku. Seseorang yang beberapa bulan lalu, tiba² saja, meminta alamat emailku. Yang mengaku bernama Haydar. Dan saat aku Tanya di mana dia mendapatkan nomorku, dia mengaku kalau menemukan nomorku teronggok di kolom sms pembaca sebuah majalah langgananku. Hal yang juga kusesali, mengapa majalah tersebut mencantumkan nomorku..!!

Haduh, sori bgt, lho.. td bnr2 gk sngja. Tpi, emg td km tau ak, ta?

Sms balasan yang benar² tidak sesuai dengan pertanyaan yang ia ajukan.

Message sent.

Message delivered
Haydar Husain

Lagi², tak ada balasan. Sungguh lebih menjengkelkan.

Dan besok paginya, kami bertemu. Tanpa sengaja. Dia menyapaku di depan kerumunan. Dan dengan sangat tenang mengatakan tentang sms salah kirimku.

Oh Gosh.

***

Pagi hari yang cerah. Hari libur, tanggal merah. Libur Maulid Nabi. Tapi rasanya aku tidak akan libur. Hari ini aku akan sangat sibuk mengadakan kegiatan maulid Nabi bersama rekan²ku.

Tit tut tit tut..

Ponselku bergetar lagi.
Sms dari dia.

Sori br bls. Kmrn sbk bgt. Da acr maulid nabi. Pnckny smpe mlm. Jd nih ru smpt bls. Tak apa, lagi..Bu Sarah. Gk ush mnt maaf. Lagian emg kn dlu sy yg awlny pngen knln.

Sms pendek pagi hari yang teramat mengejutkan. Jadi, sms pengakuanku kemarin benar² terkirim. Oh my God. Entahlah, apa yang dia pikirkan tentang aku. Seseorang yang benar² memalukan, mungkin.

Beberapa detik aku hanya memandang sms tersebut. Dan membacanya lagi. Tidak. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membalasnya. Lagi pula, sepertinya itu bukan sms yang membutuhkan balasan. Aku membacanya sekali lagi. Tersenyum. Dan menghapusnya.

Ya, biar saja, kesan apapun boleh ia sematkan padaku. Yang terpenting, aku lega. Aku telah mengakuinya. Sebuah kebohongan yang mungkin akan menghantuiku jika saja aku memendamnya. Dan pasti akan memaksaku merancang kebohongan baru.

Dan akhirnya, aku hanya memikirkan dua kemungkinan jika suatu hari aku bertemu dangannya lagi

Mungkin dia tetap tersenyum dan menganggapku teman. Melupakan semua kekonyolanku.

Atau mungkin dia akan memandangku, sinis. Memandangku sebagai seorang yang tak tau malu karena telah menyasarkan sms hanya untuk sebuah rasa penasaran.

Dan apapun itu, biarlah.

For everything happens for a reason.


Kamis, 22 Oktober 2009

DIA (Part 3) –an open ending-

Dirga H Ramadhani has confirmed your friend request, begitulah salah satu notification yang aku terima di home fesbukku hari ini. Oh God, dia benar² jadi teman di fesbukku sekarang. Meskipun aku tak yakin dia benar² tau siapa aku sebenarnya.

Kenapa aku tak upload foto asli di profilku, sesalku. Tapi sudahlah, tak penting dia benar tulus men-confirm-ku karena tau aku yang sebenarnya atau sekedar iseng buat nambah deretan teman di list friendsnya. Yang penting, aku benar² melihatnya kembali.

Bukankah aku telah bertekad melupakannya?! Aku mengingatkan diriku kembali. Tapi biar saja. Toh dia hanya akan ada dalam dunia mayaku. Kalau sudah begini, entah aku harus bersyukur atau bersabar. Bersyukur karena menemukannya lagi, atau bersabar karena akan ada banyak dilema melanda hatiku kembali.

Pelan kutengok fotonya. Tak ada yang banyak berubah darinya. Dalam fotopun, senyumnya tetap tampak begitu manis dan kharismatik. Benar² senyum seorang pemimpin yang sederhana. Entah apa yang akan dikatakan Tya, Azzi, dan Ima kalau mereka tau aku meng-addnya sebagai temanku.

Kemudian kutengok info tentangnya.

Contact info
……
……
Basic info
……
……
Personal info
……
……
Education and Work
……
……


Dia sungguh² mengisinya dengan detail. Semua hal ia cantumkan. Termasuk nomor ponselnya. Tapi tidak, aku tidak akan tergoda untuk mencoba menghubunginya. Cukup dalam dunia maya saja, lagi² aku bertekad. Single, begitulah relationship status yang ia pilih. Antara percaya dan tidak, aku membacanya kembali. Mungkinkah ia benar² belum menjalin hubungan istimewa dengan seseorang? Hatiku bertanya-tanya. Entahlah, ……


Kubaca note-nya. Tulisan pendek sederhana yang mengagumkan. Tapi sayang, tak kumiliki keberanian untuk add comment. Biarlah, batinku, aku akan menjadikannya JUST FRIEND dalam dunia mayaku. Tekadku.

***

Akhirnya kebiasaan baruku muncul. Sebentar², aku pasti akan sibuk mengutak-atik hape. Bukan untuk sms atau telepon, tapi satu²nya ponselku itu kini lebih sering kupakai online. Dan kalau sudah login, aku pasti akan langsung membuka profilnya. Mencari tahu apa saja yang dilakukannya. Membaca note-nya, lagi² tanpa mengkomennya. Kalau saja ia ikut grup siapa saja yang membuka profilku, pasti dia akan menemukanku sebagai si ‘siapa’ itu. Hehe,…

***

Hanya note-nya yang biasanya sering aku baca. Tapi entah mengapa, kali ini aku ingin membaca tulisan² di fitur² lain. Kuklik wall-nya. Hanya beberapa sapaan teman yang belum ia respon. Mungkin dia terlalu sibuk untuk OL. Tapi salah satu tulisan itu….


Wah, Kak Dirga nakal. Ngaku² single, padahal udah ada yang punya.
Hayo, ntar si dia marah lho!!



Deg! Lagi² hatiku tergetar. Aku tahu apa artinya ini. Dia tidak single.

Apakah ini sebuah kekecewaan?

Ataukah kecemburuan?

Tidak, everything’s ok. Elakku. Bukankah dia JUST FRIEND?


Several minutes later……

Aku telah putuskan. Keputusan yang sudah sering kubuat dan kulanggar. Aku akan mulai melupakannya….. lagi.

Aku tak akan meremovenya dari list friendsku. Tapi aku tak ‘kan membuka profilnya lagi. Aku tak ‘kan membaca note-nya.


Finally, tanpa ku-logout, aku pun keluar dari aplikasi opera mini favorit-ku.



D’s lovely room, September 10th 2009.10.47pm

Jumat, 16 Oktober 2009

DIA (Part 2)

Hampir setahun berlalu. Bayangan Kak Dirga pun pelan pelan pudar. Sejak ia lulus, baru sekali aku bertemu dengannya. Itupun lagi lagi tanpa sengaja. Saat itu ia tiba tiba muncul kembali di kampus. Setelah itu, ia benar benar menghilang bak dihisap langit.

***
Aku sungguh sungguh ingin tak mengingatnya lagi. Itulah mengapa, aku tak pernah menuliskan namanya lagi dalam diary-ku. Kesibukanku mengerjakan skripsi pun rasanya sangat membantuku untuk melupakannya. Unfortunately, Tya, Azzi, dan Ima rasanya tak pernah bosan menggodaku dengan menyebut nama Kak Dirga. ‘Iseng, ‘ begitulah kata mereka. ‘Duh guys, please don’t do it anymore.’ Teriakku kalau kejengkelanku memuncak. Dan mereka pun dengan kompaknya hanya diam sesaat kemudian terbahak bahak kembali.

***
Finally, I was a fresh graduate. Aku dan ketiga sahabatku terpisah. Kami sama sama sibuk dengan kesibukan baru kami. Tekadku untuk melupakan Kak Dirga pun sudah sampai di ubun ubun. Pasti, aku akan benar benar mebuatnya pudar dari ingatanku. Karena tak ‘kan ada yang membuatku mengingatnya lagi. Tentu saja, aku akan memulai membuka hatiku untuk aktor lain dalam drama kehidupanku.

***
Kini hampir dua tahun berlalu setelah aku lulus dan tak melihatnya lagi . Aku hampir benar benar membuatnya hilang dari hidupku. Tapi siang itu, saat iseng aku login ke akun fesbukku, tiba tiba sosok itu muncul kembali. Dia ada dalam deretan teratas list people you may know-ku. Deg! Rasanya debar itu muncul kembali. Rasanya mantra yang lama tak ia lafalkan beraksi lagi. Dan mungkin karena mantra itu juga yang membuatku menggerakan kursor mouse-ku pada kolom add friend. Pelan pelan aku klik add friend, aku ketik verification code, dan akhirnya, ‘your friend request has been sent to Dirga for approval’, warning yang muncul setelah aku klik send request. Deg! Debar kedua pun muncul kembali. Entah apa ini yang disebut penyesalan. Yang selanjutnya membuat aku benar benar menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku tak pernah menambahkannya sebagai teman, sesalku. Harusnya aku membiarkannya berlalu dan hilang dalam list-ku. Tapi rasanya, air sudah tercampur garam, sudah terlanjur. Aku hanya tinggal menunggu waktu lagi. Dan hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi.

D’s lovely room, September, 6th 2009

Senin, 14 September 2009

DIA (Part 1)

“Aneh!”

“Nyentrik!”

Begitulah untuk kesekian kalinya komentar Tya dan Azzi, dua sahabatku, saat lagi-lagi mereka melihatku senyum-senyum setelah melihat Kak Dirga menyapaku.

“Da, kamu bener bener suka ma Kak Dirga, ta?” kali ini si Ima menegaskan pertanyaan yang juga sudah sering ia lontarkan.

“Gak, kok. Siapa lagi, yang suka ma Kak Dirga. Orang kenal juga nggak.” Elakku untuk kesekian kali pula.

“Uh, ngaku aja susah!” kata Tya akhirnya. Dan kami berempat pun melanjutkan perjalanan menuju kelas. Kulihat alba di pergelangan tangan Azzi, 07.42 a.m., masih ada 28 menit lagi, batinku.

***
Dirgahayu Ramadhani, begitulah nama yang akhirnya kuketahui tanpa sengaja. Setelah aku juga mengenalnya tanpa sengaja.

Saat itu, hari ke empat aku memulai kehidupan baruku di kampus ini. Ospek sudah berlalu seminggu yang lalu. Dan tiba tiba saja, di koridor dekat kelasku, berdiri sosok yang sepertinya sudah kukenal. Tanpa ba bi bu, kuhampiri sosok berkaca mata minus itu. “Kak Alfan, ya?” tanyaku sok kenal. Ia tampak sedikit bingung.
“Aku?” tanyanya kemudian, sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, “ kataku penuh semangat, “ aku Mada. Kak Alfan masih ingat, kan?”

Ia tersenyum, sebuah senyum termanis yang kulihat hari ini. Hampir lima tahun tak bertemu dengan kakak kelasku saat SMP itu, rupanya ia sudah berhasil mengukir sebuah senyum yang indah.
“Maaf, Dik. Tapi sepertinya kamu salah orang, deh. Aku Dirga, bukan …, siapa kata kamu tadi?”

Deg, ….rasanya aku ingin meloncat dari lantai empat ini. Tapi, ia benar benar mirip dengan Kak Alfan.

“Oh ya?! Benar bukan Kak Alfan?” aku masih mencoba menebaknya. Sudah terlanjur, sambil mundur perlahan, aku ngotot kalau dia adalah kakak kelasku itu.
“Benar, nih lihat.” Dia menunjukkan diktat kuliahnya padaku, Dirga, begitulah nama yang tertera. Oh my God, rasanya aku sudah ingin mengakhiri kehidupan yang baru saja empat hari ini. Secepat mungkin aku berbalik dan tanpa sepatah katapun kutinggalkan sosok yang kurasa dalam hatinya telah menertawakanku itu.

“Kenapa, Da?” Tanya Azzi saat kuhampiri mereka di koridor seberang.
“Wah, kamu kenal ya ma Kak Dirga?” kali ini Ima yang bertanya sebelum aku jawab pertanyaan Azzi. Tunggu, bagaimana Ima bisa kenal Kak Dirga? Batinku langsung bereaksi.
“Im, kok kamu kenal ma Kak Dirga?” tanyaku reflek
“Ya iyalah. Dia kan yang kemarin masuk kelas kita. “
“Ngapain?” tanyaku heran.
“Ya Allah. Masa kamu gak merhatikan, Da. Kemarin kan ada kakak tingkat yang ngumumin kegiatan HMJ. Ya Kak Dirga itu.” Kali ini giliran Tya yang menyahut.

***
Ya, aku ingat sekarang. Pantas saja aku seperti sudah melihat sosok itu sebelumnya. Hanya saja ternyata aku salah terka. Rupanya, folder di memoriku sudah perlu diclean up, batinku. Akhirnya, dengan polosnya ku ceritakan pengalaman salah terkaku pada ke tiga sahabatku itu. Kontan saja mereka terbahak mendengarnya.
“Makanya, Da. Lain kali, kamu tuh jangan suka SKSD gitu.”
“Iya. Dan juga, belajar lebih peka pada sekitar. “
“Bener. Lagian salah kamu sendiri, kalo ada pengumuman, jangan suka bilang ‘males ah dengerinnya’ trus ditinggal corat coret gak jelas”
Nasehat nasehat bijak dan sok tua ke tiga sahabatku itu langsung memenuhi memori yang belum sempat aku clean up. Dan sekarang, rasanya memori di otakku juga sibuk membuat new folder buat nge-save kata kata indah nan penuh makna itu. Teman, aku takkan men-delete nasihat kalian itu, tekadku.
Akhirnya, sepanjang sisa hari itupun aku termenung. Aku bahkan tak mengucapkan kata maaf pada Kak Dirga. Dan rasanya, empat tahun ke depan aku tak bisa membayangkan jika aku bertemu dengannya lagi. Apalagi, dia satu jurusan dan anggota HMJ pula. Pupus sudah harapanku untuk jadi seorang aktivis.

***
Dua hari kemudian aku bertemu dengannya. Menunduk, itulah satu satunya yang aku lakukan. Entah mengapa, untuk mengatakan kata maaf masih terlalu sulit bagiku. Rasa malu-ku kali ini lebih besar dari keberanian yang biasanya overload. Kami saling melewati, dan aku sunguh tak berani memandangnya.

Lagi, untuk kesekian kalinya, kami bertemu. “Hai, “ sapanya. Dan tiga huruf yang keluar dari mulutnya itu mau tak mau meruntuhkan malu dan rasa bersalahku padanya. Kutegakkan lagi kepalaku. Sing…ada yang salahkah dengan pandanganku? Ia tersenyum, benar benar sebuah senyuman manis yang dulu juga sempat aku lihat saat aku salah menerkanya sebagai kak Alfan. Tapi kali ini-pun, bibirku masih juga terkatup dan tak mengucapkan kata maaf. Aku hanya balas tersenyum padanya dan melewatinya.

“Mada, kenapa wajahmu merah gitu?” Tanya Tya saat aku sampai di kelas.
Oh no, batinku. Mungkinkah warna merah di wajahku ini sudah ada sejak tadi aku bertemu Kak Dirga?
“It’s ok!!” jawabku asal.

Hari hari pun berlanjut. Aku merasa tuhan menghukumku karena belum mengucapkan kata maaf pada Kak Dirga. Hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Di koridor, di tangga, di taman, di kantin, bahkan di jalan aku pulang. Sampai akhirnya, keberanian itupun aku paksakan muncul.

“Kak, maaf!” kataku lirih saat kami bertemu di depan kelas. Hari itu di kampus ada kegiatan PEMILU Raya Mahasiswa. Dan ia termasuk salah satu kandidatnya.
“Maaf? Maaf untuk apa?” tanyanya heran karena aku –lagi lagi- tiba tiba menghampirinya dan berkata maaf padanya. Tentu saja hal itu juga membuatku tak kalah heran. Sebenarnya, dia masih ingat aku atau tidak, sih? Batinku.
“Ya, pokoknya maaf, deh, Kak!” kataku akhirnya, “dan, semoga sukses ya!” lanjutku sambil menunjukkan jempol yang sudah kucelupkan pada tinta. Ya, aku telah memilihnya saat dalam TPS.
Lupa, itulah kata kata yang terngiang dalam benakku saat aku berjalan menuju tempat kost Tya. Pasti Kak Dirga telah melupakan kejadian yang empat bulan telah berlalu itu. Tapi mengapa dia selalu tersenyum saat bertemu denganku? Dan selalu, ‘hai’ sapanya padaku. Tak pernah berubah, tiga huruf itu saja yang selalu ia lontarkan. Aku rasa, dia juga tak tahu dan tak pernah ingin tahu namaku.
Entahlah. Aku hanya terus berjalan menuju tempat kost Tya. Dan bertekad melupakan kejadian memalukan empat bulan yang lalu itu. Serta, melupakan senyuman manis yang selalu menjadi hadiah indah hari hariku. Ketiga sahabatku sedang berkumpul menunggu jam kuliah selanjutnya di kamar kost Tya. Hari ini, aku memang sengaja ke kampus lebih awal, ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan sendirian.

***
Sudah hampir dua minggu ini aku tak bertemu dengannya. Aku rasa, Tuhan sudah tidak lagi menghukumku karena aku sudah mengucapkan kata maaf itu. Meski memang, seperti ada yang kurang memenuhi hari hari ku saat itu. Tapi aku salah. Aku salah jika aku berfikir bahwa aku tak kan bertemu dengannya lagi. Hari ini, aku dan ketiga sahabatku sedang menuju kelas writing kami saat kulihat dia berjalan dari arah yang berlawanan. Semoga dia belok, batinku. Tapi lagi lagi harapanku tak terkabul. Dia melawati kami dan, “Hai!” sapanya lagi sambil tersenyum padaku. Kali ini keberanianku juga sudah muncul kembali dan “ Hai, Kak!” balasku padanya sambil mengulum senyumku.

“Wah, Kak Dirga masih ingat tuh, Da!” komentar Azzi. Aku hanya diam dan kembali tersenyum.
“Heh, ngapain Da senyum senyum gitu. Hayo…!” ledek Ima.
“Apaan, sih” elakku

Kejadian berulang, kali ini bukan hanya aku yang bertemu dengannya. Tapi kami., aku dan ketiga sahabatku. Dan setiap kali bertemu, ia akan menyapaku dengan tiga huruf yang sudah menjadi mantra buatku. Dan ditambah sebuah senyuman, yang entah mengapa selalu kuanggap buatku, rasanya seperti sebotol ramuan polijus yang membuat keberuntungan sepanjang hariku. Dan layaknya hukum aksi reaksi, ledekan sahabatku pun jadi hiasan kebersamaan kami.

Hari hari berganti. Kejadian berulang. Entah mengapa, meski aku yakin dia tak tahu namaku, rasanya itu bukan hal yang harus dipermasalhkan. Cukup aku bertemu dengannya, mengucapkan password kami, tukar senyum. That is enough. Dan selanjutnya, semakin parah. Diary-ku pun penuh dengan namanya. Hamper setiap pertemuan kami aku tulis. Dan setelah itu tidurku akan terasa lebih nyenyak.

***
“Mada, kalau kamu suka seseorang tuh, yang nyata dong!” Baru saja kami sampai kelas, dan Tya sudah langsung melemparkan komentarnya.
“Apaan, sih, Ya?!” aku bertanya, sok bingung,
“Kak Dirga. Dia tuh orang paling aneh yang pernah aku temui. Masa dari dulu kalau ketemu cuman ‘hai’”
“Ye, siapa lagi yang suka ma Kak Dirga?!”
“Udah, ngaku aja, “ kali ini Ima ikut membela Tya. “Lagian, Da, menurutku bener kata Azzi. Dia tuh nyentrik. Kalau berpakaian gak pernah serasi. Trus apa lagi ya…? Pokoknya, gak banget deh!!”

“Udah, ah. Males kalo ngomongin ini terus.” Aku hiraukan mereka dan kubuka kembali buku yang sudah siap kucorat coret, kebiasaan lamaku.

***
Tiga tahun berlalu. Aku tetap keukeuh menyimpan rahasiaku. Diam tentang kebiasaanku menuliskan namanya dalam diary. Dan begitu juga Azzi, Tya, dan Ima, tetap keukeuh menebak kalau aku menyukai Kak Dirga, sosok berkaca mata yang kata mereka aneh, nyentrik dan gak banget, tapi kataku, simpatik, sebutan yang juga aku rahasiakan dari mereka. Aku tetap keukeuh mengelak kalau aku ada perasaan istimewa pada Kak Dirga, sementara mereka juga tetap keukeuh mengatakan kalau aku harus berhenti memikirkan Kak Dirga, sosok berkaca mata yang telah menjadi penghuni dunia khayalku.

Tiga tahun berlalu. Aku tak pernah mendengarnya dekat dengan seorang gadis. Itulah yang membuatku juga tak bisa berhubungan lebih dekat dengan Ari. Karna aku telah memilihnya sebagai aktor dunia fantasiku. Tapi tidak. Aku memang tidak pernah berharap lebih. Cukup tiga huruf h-a-i dan sebuah senyuman. Maka semuanya akan terasa cukup. Setidaknya sampai hari ini.

Tiga tahun berlalu. Dan hari ini, aku mendengar kabar itu. Dia di wisuda. Dan ini berarti, aku harus berhenti menjadikannya aktor dalam fantasiku. Aku harus berhenti menuliskan namanya dalam lembaran lembaran diary-ku. Aku tahu aku sanggup. Karena, tak kubulirkan air mata saat aku melihatnya dalam balutan toga. Meskipun aku tak melihatnya dari dekat, dan dia juga tak mengucapkan tiga huruf itu. Aku yakin dia saat ini sedang tersenyum. Senyuman termanis yang pernah aku lihat. Senyuman termanis yang menjadi inspirasi indahku. Senyuman yang hari ini aku yakin, bukan untukku.

Sambil melihat kepergiannya, hatiku hanya berbisik, ‘Wish you luck, Kak Dirga. And thanks for being a great actor in my life’. Aku berbalik, dan menuju ketiga sahabatku.

D’s lovely room, September 3rd 2009. 12. 14 am.