Hujan

Tampilkan postingan dengan label The Gift : Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Gift : Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2011

Refleksi Dua Puluh Enam [Catatan Kemarin]

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***
[ini catatan kemarin, 22 Ramadlan, dan udah sy  posting di note]

Nyaman. Ya, akhir-akhir ini sy sedang berasa di kondisi [entah] nyaman [atau tidak]. Bukan sebuah kebingungan melainkan keabu-abuan. Well, sy suka menganggapnya demikian.

Setidaknya, sy menganggapnya ‘kejutan’ ketika sesuatu itu menghampiri sy di –bahkan- belum seminggu berlalu dari 31 Mei. Huft!

Dan kini sedang tertatih melalui –hampir- tiga bulan. Masih saja, sy tetap merasa dalam kondisi abu-abu antara nyaman dan tidak.

Selasa, 31 Mei 2011

JELANG


Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***
 
Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Seharusnya, di saat seperti ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, sy sedang menikmati obrolan hangat dengan mereka. Ya, dengan lembar demi lembar diary yang hampir sebelas tahun menemani hari-hari sy. Ah, I miss ‘em so much. Entah sudah berapa lama sy tak berbagi banyak hal dengan mereka. Karena sebuah alasan yang sungguh menggelikan. Kunci rumah mereka hilang begitu saja. Emm.baiklah, sebenarnya bukan hilang begitu saja, tapi karena kecerobohan sy. (_ _)’.

Senin, 30 Mei 2011

Jelang

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***
 
Hari ini sy ingin bercerita banyak hal. Hmm..entahlah..bercerita apa saja kepada banyak orang yang sy kasihi. Ah, bukan cerita yang luar biasa. Mungkin hanya sekadar cerita yang ingin sy bagi tentang betapa beruntungnya sy mengenal mereka. Mereka yang mengajarkan banyak hal pada sy, --tanpa mereka sadari.

Kamis, 26 Mei 2011

K.A.N.G.E.N

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***

Jadi ceritanya sy sedang kangen. Yupz, K.A.N.G.E.N sama si ijo blogspot sy cz udah luamaaaaaaaaa banget gak apdet. *hii..lebay, ah, Dew!! baru sebulan lebih, kan? (_ _)"

Nah, apa pasal sy lama gak ngeblogging? huft!! nih cz si inet di rumah lagi gak kompak. si modem item juga baru balik.

So, let's blogging again!!

Jumat, 08 April 2011

[Behind the Scene]

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah  yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***

Ah, sy bahkan tidak tau harus mengawalinya dari mana. Euforia, ya..sy sedang menikmati euforia. Maka kali ini akan tentang si Ijo yang hari ini sy terima.
Jum’at yang indah. Tak kalah indah dengan Jum’at seminggu yang lalu.

Mozaik Sekeping Hati. Itulah si Ijo yang sy maksud. Kabar ‘kelahiran’nya sy terima seminggu yg lalu tapi hari inilah sy benar-benar menyentuh dan membuka tiap lembar halaman novel perdana sy itu. Dan, wow!! Rasanya hati sy ingin terus mengucap syukur padaNya. Allah yang Maha Baik.

Selasa, 16 November 2010

Kubisikan Dengan Sangat Lirih, Padamu

Teman
Bisakah kalian beritahu aku di mana bisa kubeli nurani?

Untuk kuperbaiki hatiku
Dan juga kuhadiahkan pada mereka yang sudah tak punya nurani

Mahalkah?

Senin, 20 September 2010

Mengapa Kecewa?

Mbak, mengapa kita bisa kecewa?

Itulah bunyi salah satu pesan yang masuk inbox-ku di suatu siang. Sebuah pertanyaan, -- klise--, yang sempat membuatku terdiam dan berpikir agak lama untuk menjawabnya. Bukan, tentu saja bukan karena ini adalah hal yang teramat sangat sulit untuk dijawab. Melainkan karena, --aku pikir--, pertanyaan tersebut harus dijawab dengan sesederhana dan sebijak mungkin.

Mengapa sederhana?
Karena aku yakin temanku yang mengirim sms itu pasti sedang kalut, dan ia, --masih tetap sesuai dengan apa yang aku pikir--, tidak membutuhkan jawaban panjang lebar dan rumit. Tapi yang ia harapkan mungkin adalah sebuah jawaban yang sederhana yang membuatnya sedikit lebih rileks setelah membacanya.

Mengapa bijak?
Karena aku tau temanku yang mengirim sms itu pasti butuh jawaban yang pada akhirnya biasa membuat ia tidak merasa ’berdosa besar’ karena telah ’kecewa’ entah pada apa itu. dan tentu saja, jawabanku harus bisa memberinya solusi. (’solusi’ versiku tidak hanya tentang memecahkan sebuah masalah, tapi juga meringankan beban masalah)

Oke. Setelah beberapa menit menimbang beberapa hal yang aaku pikirkan dan memilah beberapa diksi yang tepat, aku memberikan jawabanku. jawaban yang terpikir saat itu.

Kecewa? Tentu saja kita bisa kecewa karena kita manusia.. Ah, aku rasa tidak hanya kita, tapi hampir semua orang bisa kecewa. Jadi kecewa kayaknya bukan hal langka, deh.. Kita kecewa karena kita telah berharap lebih pada hal itu, --hal yang akhirnya membuat kita kecewa Itulah mengapa, sepertinya bukan hal yang baik kalo kita membumbungkan harapan yang terlalu tinggi pada sesuatu,-- apapun itu. eitz, tentu saja itu gak berarti kalo kita gak boleh optimis dan bermimpi. Aku selalu berusaha optimis dan bermimpi setinggi puncak everest. Tapi satu hal yang aku tekankan pada diriku sendiri,bahwa pada akhirnya DIA yang menentukan. Bila ternyata apa yang ada ato yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan, maka aku selalu berusaha meyakinkan bahwa hal itu bukan yang disiapkan Tuhan untukku. Pasti ada hal istimewa yang menungguku, dan aku harus segera menjemputnya. Tak masalah kita kecewa, --sebetar saja--, hanya sebagai sebuah reaksi. Hukum alam aksi-reaksi tetap berlaku, kan? Jadi intinya, kalo kita tidak ingin kecewa yang teramat sangat, kita hanya tidak boleh melampaui batas mengharapkan sesuatu. Gimana, sepakat?

Ya, jawaban yang pada akhirnya tidak begitu sederhana dan tidak begitu bijak, tapi malah sedikit panjang lebar dan rumit. Hehehe.. maklum, seorang awam kayak aku tentu saja tak bisa menjadi penasehat yang begitu baik. Tapi agar aku tak kecewa pada diriku sendiri, aku tersenyum dan berkata dalam hati ’well, yang terpenting aku berusaha sebaik mungkin menjawabnya, kan?’

****Oh ya, tentu saja jawaban sebanyak 173 kata itu tidak aku jawab dalam satu kali sending message, tapi aku buat bersambung ala sinetron stripping Indonesia gitu. Dan lagi, aku juga menggunakan bahasa sms yang baik dan benar, jadi tolong jangan bayangkan aku menulisnya lengkap dan detail ala pembukaan UUD ’45, ya..!

So, kembali pada soal kecewa, --atau mungkin mengecewakan--, adakah yang mempunyai opini lain?