Hujan

Tampilkan postingan dengan label The Gift : My Holidays. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Gift : My Holidays. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

My Lovely Lovelyta Averroes 19

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
 
***

Sebenarnya ini adalah naskah yang pernah sy tulis untuk Audisi Naskah "Storycake For Ramadhan" --bulan lalu-- namun lagilagi, tereliminasi. ^^v

Kecewa? ya iyyalah. Tapi seperti biasa, alih-alih meratapinya, sy lebih memilih meneguk ramuan pembangkit mental pejuang yang sengaja saya siapkan untuk menghadapi kekalahan. Glek!!  

Dan, naskah yang rencananya --kalo lolos-- bisa sy jadiin kado istimewa buat sodara seperjuangan sy pun terpaksa harus tertunda. Maybe next time, my Dears. 

however, a bunch of thanks for mbak Gia a.k.a Lygia Pecanduhujan for including it in top 80 (or 88, ya?) then giving a chance to GPU to enjoy this though at the final scoring, they had to eliminated it. That chance was an awesome one. Indeed.

Kalo ada yang mbatin kenapa naskahnya sy publish di sini, maka jawabnya adalah karena sy kiramomentnya lagi pas. Daripada nih naskah diem di file, sy kira bisa lebih baik dipublih buat nyambut Ramadhan plus siapa tahu sy dapat bonus masukan --konstruktif tentunya-- buat bahan benah tulisan sy selanjutnya. 

Yupz.. biar gak berpanjang prolog lagi.. here it is ^^
>

20 Mei 2011 [Bagian KEDUA]

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***

20 Mei 2011
[Bagian KEDUA]

Destinasi kedua kami adalah Sepandjang Djalan Idjen yang sedang begitu riuh karena adanya Festival Malang Kembali yang lebih dikenal dengan Malang Tempo Doeloe a.k.a em-te-de. Yupz, event tahunan yang dihelat dalam rangka hari jadi kota Malang.

Turun dari angkot biru, kami disambut jubelan orang dan barang. Byuh!! Tak disangka kalo bakal seramai ini.

Bismillah, kami mulai penyusuran..

Rabu, 22 Juni 2011

20 Mei 2011 [Bagian PERTAMA]

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
 
***
 
20 Mei 2011
[Bagian PERTAMA]

YAKIN, sebagian besar dari Anda mungkin akan berpikir tentang satu hari istimewa bagi Indonesia ketika membaca judul postingan sy kali ini. Ya, Hari Kebangkitan Nasional yang secara ‘keren’ dikenal dengan Harkitnas. Hehe.. tapi maaf, sy sedang tidak akan membicarakan tentang hari istimewa itu –emm, paling tidak, secara khusus tentang Hari Kebangkitan Nasional--. Oia, tidak pula tentang ‘diskusi PSSI yang rupanya juga digelar pada hari yang sama. :-)

Selasa, 19 Januari 2010



Miss you all my pals..

Wanna have that days again.

the worthy days in my life.

 

Sabtu, 12 Desember 2009

Tadabbur (Part III)

Ya…dan inilah bagian tiga dari tadabbur alam weekend-ku, cerita tentang perjalan pulang dari Bromo Mountain. Bagi yang udah nunggu², maaf ya coz pasti udah lama banget nunggunya…hehehehe*gubraKKKK*

Awalnya kami semua (kecuali Mr. Driver, of course) ngira kalo kami bakal langsung pulang. Padahal K508i-ku masih mennjukkan pukul 12.04 pm. Tapi ternyata, jalanan berkelok-kelok, naik-turun, muter², yang membuat kami menikmati kawasan wisata Bromo dari atas puncak tidak membawa kami langsung pulang. Setelah kira² setengah jam-an dan melewati banyak tikungan tajam, yang membuatku membayangkan berada di Gunung Akina (pada tau Gunung Akina di Initial D, kan??), L-300 pun berhenti di sebuah parkiran yang ternyata setelah kami turun dan berjalan naik kira² selama 5 menit-an membawa kami di sebuah gate yang bertuliskan ‘Welcome to PENANJAKAN-View Point’. Ya, kami tiba di Penanjakan yang konon katanya tempat tertinggi di wilayah ini. Itulahmengapa disebut penanjakan karna artinya naik. Banyak orang yang ada dio penanjakan sini. Dari sini kami bisa melihat indahnya alam di bawah. Dari tempat yang jauh n tinggi ini semua tampak amat kecil. Subhanallah, sungguh pemandangan hijau yang teramat indah untuk tidak diabadikan.
Sayangnya kami hanya sebentar berada di Penanjakan. Tak sampai setengajh jam, pemimpim rombongan kami mengomandokan kami untuk kembali ke L-300 dan bersiap² pulang.

Lagi², di perjalanan kami pulang-pun kami harus melewati banyak tikungan. Untung saja saat itu bukan si Takumi yang mengemudikan L-200 yang kami tumpangi. (halllluuu, dah tau Takumi, kan?? Yang belom, bisa nonton Initial-D..hehehehe…). setelah jalanan turun, jalanan menanjak naik lagi. Belok kanan, menikung kiri. Belok kiri, menikung kanan…huh!! Sungguh sangat memusingkan. Jadinya, aku yang emang hobi banget tidur jadi gak sempat menikmati pemandangan seutuhnya. Tau kenapa??ya ya,, karena buaian lembut angin dipadukan rasa mual karena jalan yang menikung tanpa jeda-lah yang membuatku lebih memilih memejamkan mata dan merapatkanjaket. Hehe..

Tapi, belum juga puas mmejamkan mata, aku terbangun karena tiba² si L200 berhenti tanpa izin. ciaTTT…………. Mr. Driver mendadak menginjak pedal remnya. Ternyata, jalan yang akan kami lewati ditutup karena ada kerusakan akibat hujan lebat semalam sebelumnya. Ya, gagal deh rencana kami melewati Nongko Jajar. Kami memutar dan melewati jalur alternatif lain.

Kira² setengah jam perjalanan, kami berhenti untuk sholat Dhuhur. Alhamdulillah, rombongan kami kali ini menyadari bahwa sholat itu bukan hanya kewajiban, melainkan kebutuhan.

Setelah itu, kami-pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Lagi², udara dingin dan cuaca mendung membuatku cepat² duduk dan memejamkan mata. Semoga aja gak bakal hujan, batinku.

Ternyata, tidur dalam perjalanan tak akan senyenyak tidur in my lovely room. Belum juga mimpiku sampai pada klimaks, tiba² lagi aku terbangun. Ya, rupanya kali ini kami melewati jurang turun, jurang Kemiri, begitulah sebutannya. Wuih, sungguh amat curam dan makadam yang menyengsarakan. Setelah itu, kami menaiki jurang yang disebut Jurang Tunggangan. Jurang yang juga amat terjal dan curam. Bagi yang berkendara, rasanya gigi 1 akan jauh lebih aman. (hehehehe, sebenarnya se aku agak lupa, yang pertama kami lewati tuh yang Jurang Kemiri ato Jurang Tunggangan, ya? Tapi whatever lah, yang penting tuh dua jurang berdekatan!!)-sekedar info, Ke-2 jurang tuh letaknya di Jabung-^

Akhirnya kami sampai di jalan besar. Jalan menuju Tumpang dan akhirnya membawa kami pulang dengan selamat dan senang. Tanpa hujan n gak ada kepanasan. Alhamduillah.


Semoga, tadabbur alam ini benar² membuat kami bersyukur atas kuasa-Nya. Amin.

Bagi para pembaca, buruan, kunjungi Kawasan Wisata Bromo Tengger, ya..!!
Dijamin gak bakal rugi. Yang ada malah pengen ke sana n ke sana lagi..^^

Kamis, 26 November 2009

Tadabbur (Part 2)

Yupz, ini lanjutan note yang tentang tadabbur alam ke Bromo tengah November kemarin, tuh… Jadi kalo ada yang belum tau n pengen tau gimana perjalanan berangkat kami Bromo, bisa ngintip note entitled Tadabbur (Part I)..


Hehe…

Kali ini kisah kami pas udah nyampe Bromo.

Subhanallah, lagi² kalimat itu tergumam oleh kami semua. Sungguh tempat yang indah dan amazing. Mungkin karena hari ahad, hari libur, makanya kawasan wisata Bromo Tengger pun jadi amat ramai. Tapi tentu saja, masih luas n indah.

Kulihat jauh di sana sang kawah Bromo mengepulkan asapnya. Kutengok sisi sebelahnya ada sebuah bukit yang dengan pongahnya berdiri menjulang seakan menantang para pendaki untuk menaklukannya, (dan belakangan kutahu ternyata orang² menyebutnya Gunung Batok). Di tengah² antara Kawah Bromo dan tempat kami berdiri, ada sebuah bangunan (sepertinya sebuah Pure) yang saat aku lewati ternyata tempat itu tidak dibuka untuk umum. Jadi terpaksa niatku untuk masuk n ngeliat isinya terpaksa aku pending.

Bagiku, dan mungkin bagi kebanyakn pengunjung yang lain, rasanya belum ke Bromo jika gak naik melihat kawah Bromo. Perjalanan naik sepertinya akan terasa melelahkan tapi menyenangkan. Meski ada beberapa orang yang menawarkan kuda untuk disewa, tapi niat untuk jalan kaki menuju lereng lebih besar Akhirnya kami pun memutuskan untuk naik. Untuk sampai di lereng kawah Bromo kami harus berjalan kira² setengah jam. Di perjalanan, banyak orang yang menawarkan berbagai souvenirs. Ada berbagai macam kaos, buket edelweis dan buket bunga padi Gunung. Sampai di lereng kawah Bromo, kami harus menaiki tangga untuk bisa melihat kawah belerang yang sebenarnya. Satu langkah, dua langkah, kuhiting perlahan jumlah tangga yang aku lewati. Dan sepertinya, bukan cuman aku saja yang melakukannya. 253 anak tangga, begitu kata ibu² paruh baya yang berpapasan dengan-ku di ujung tangga. Konon katanya, setiap orang yang menghitung anak tangga tersebut tak pernah mendapatkan hasil yang sama. Ya iyalah, batinku, mana bisa dapat hasil yang sama n ngehitung yang bener kalo dalam keadaan cape’, ngos²an, n pas udah sampe atas ternyata ada orang yang tiba² mecah konsentrasi. Nah lho, aku aja lupa sampe mana hitungannku tadi.

Sampai di atas, kami benar² melihat nya lagi. Sungguh keindahan alam yang menakjubkan. Saat ku tengok kawah Bromo, asap belerang mengepul. Menyengat. Dari atas, semua tampak begitu kecil. Sempat terbayang, bagaimana jika Tuhan yang Maha Besar melihat kami semua, pasti juga tampak begitu kecil, kan??

Subhanallah.

Kuarahkan pandanganku menuju Gunung Batok. Benar saja, ternyata something yang begitu kecil merayap di dinding Gunung Batok, yang sedari tadi menyita perhatianku, adalah para pendaki yang merasa tertantang untuk menaklukkannya. Two thumbs up for them, then. Pasti mereka bakal ngerasain kepuasan yang tak ternilai saat sedah di atas.

Tak lupa, jepret sana jepret sini lagi. Uh, dasar kami para photographers n models wannabe...!!

Sekitar setengah jam kami menikmati keindahan Bromo dari atas dan memutuskan untuk turun.Bukan udara dingin yang membuat kami cepat² turun. Ternyata, udaranya tidak sedingin yang diperkiraan. Maklum, bagi kami yang tinggal tak jauh dari kaki Semeru, udara seperti ini sudah menjadi teman² sehari². Tapi asap Beleranglah yang memaksa kami untuk turun. Asap yang sangat menyengat. Kembali aku konsentrasi menghitung anak tangga. (hehehehe,, kurang kerjaan banget, ya??). Nyatanya, kali ini aku mendapat hasil hitungan yang sama ma si Fie, temen seperjalananku. Hihi,, tapi aku gk ingat jelas, berapa ya jumlahnya saat itu?? Ntar² deh kalo ke sana lagi ngehitung lagi,,^^

Kembali lagi kami menuju L 300. Setelah selesai had a meal together n pastinya ngebuang sampah di tempatnya...(hhhmmm, banyak banget lho sampah yang berceceran di kawasan Bromo. Sayang banget, kan??) kami pun memutuskan untuk pulang.


Masih jam 12-an. jadi diputuskan sholat Dhuhurnya di masjid di perjalanan, deh..!!


Mau tau dong, bagaimana perjalanan pulang kami??


Yang ternyata tidak langsung pulang karna kita dibelokkan menuju Penanjakan..!!

Wwwwww.....

Diz’ such a kinda wonderful place also...

But,,,,

To be continued lagi, dah...!!


Don’t miss it then!!^^



D’s lovely room, November, 25th 2009 11. 19 pm

Selasa, 17 November 2009

Tadabbur

Akhirnya, hari itu tiba juga. Hari yang udah aku tunggu² sejak beberapa hari sebelumnya. Yupz, hari libur kali ini aku gak sibuk di rumah seperti beberapa minggu dalam sebulan ini. Gak bersih² rumah, ngeberesin buku² koleksiku, nyapu halaman, nyiram bunga, bantu Ibu’ masak, nyuci, nyetrika, n beberapa rutinitas yang sering banget ngisi hari mingguku. Tidak juga ngunjungin si mbah, belanja ke pasar, maen ma ponakan, nonton ma cs, ato.sekedar jalan² cuci mata
Tapi libur kali ini, akhirnya aku akan berangkat ke Bromo, salah satu tempat yang udah lama banget ingin aku kunjungin.

Belum juga si jago berkokok, aku udah memaksa mataku tuk terbuka. Lagaknya, si mata pun dengan kompaknya tak terpejam lagi meski udara dingin dengan lembutnya menusuk-nusuk. Grrrr... brrrr.... setelah selese semua aktivitas bangun pagiku, dengan semangat ’86 kubantu ibu’ menyiapkan semua bekal yang harus aku bawa. Sim salabim ..jadi deh bekalnya..!! hmmm,,yummy dah!!

Kumasukkan semua barang yang mungkin aku perlukan ke dalam tas. Sreet..kutarik jaketku dan setelah berpamitan pada Ibu’ n Abah, aku n adek pun berangkat ke tempat kami harus berkumpul.

Jam 5.30, kami sampai di rumah mb. Ari. Yupz, aku akan berangkat bersama temen² kerjaku. Tak sampai lima menit, semua orang sudah berkumpul. Satu, dua, ... ada 15 orang yang ikut dalam perjalanan. L-300 rasanya tak akan terlalu buruk untuk membawa kami ke Bromo.

Bismillah, perjalanan tadabbur alam pun kami mulai.

’Subhaanal ladzi sakhoro lanaa haadza wa ma kunna lahu muqriniin. Wa inna ilaa robbina lamunqolibuun’

Sepagi itu, jalanan juga udah ramai. Sepertinya udara dingin tidak menghalangi orang² tuk menyambut malaikat mikail. Seramai apapun, tak kan ada macet di daerah sini, kecuali kalo ada pawai tentunya. Si L 300 melaju naik melewati Gubugklakah dan sekitarnya. Semakin naik membuat aku semakin mengencangkan jaketku. Udaran pemandangan pagi pedesaan ternyata emang benar² sejuk n segar. Kira² setengah jam perjalanan, kami melewati Coban Pelangi yang ada di kanan jalan. (Ada yang belom tau Coban Pelangi?? Plis deh!!). Beberapa ratus meter setelahnya, kali ini kami melewati Coban Trisula yang ada di pinggir jalan (Ada yang belom pernah ke Coban Trisula?? Wajar aja kali!!aku juga belum, koq!hahahaha..). jalanan semakin naik, pemandangan semakin menakjubkan, dan udara semakin dingin.

Subhanallah, rasanya sulit untuk gak bergumam mengagumi pemandangan. Hamparan terasiring yang dipenuhi berbagai tanaman. Sulit kubayangkan bagaimana orang² bisa menanam sayuran mereka ditempat tegak seperti itu. Sepertinya, untuk berdiri tegak aja sulit. Tapi toh nyatanya mereka emang bisa!! Two thumbs up dah bwt para petani di sana.

Semakin jauh, sepertinya kami melewati lereng pegunungan. Berbagai macam pepohonan n berbagai macam tanaman memenuhi pinggir jalan yang kami lewati. Ada kayu cajuput besar yang daunnya bisa menampar kami kalo kami lengah berdiri. Jadi setiap saat kami harus siap merunduk kalo ada daun cajuput melambai di pinggir jalan. Ada juga berbagai macam bunga yang entah apa namanya.

Sambil tetap mengagumi keindahan alam, aku jadi terpikir lagu yang dulu sering aku nyanyikan saat kecil

....Naik naik, ke puncak gunung
....Tinggi timggi sekali
....Kiri kanan kulihat saja
....Banyak pohon cemara,,aa,,aa
....Kiri kanan kulihat saja
....Banyak pohon cemara

hehe, kaya’nya tuh lagu emang cocok banget cz kulihat juga banyak pohon (yang menurutku) cemara.

Agak jauh di atas perbukitan ternyata ada juga pemukiman orang. Saat kutanya temanku, ternyata namanya Jarak Ijo. Pemukiman yang jauh dari jangkauan, batinku. Bagaimana tidak, untuk mencapainya, orang² harus naik puncak. Oh God!!

Setelah kira² satu setengah jam-an, setelah jalanan naik n berkelok² tajam, kamipun sampai di daerah Ngadas.

Subhanallah, kembali kami harus mengagumi alam lagi. Ada sebuah padang rumput yang luas dan menakjubkan. Ehm, belum kutemukan kata² yang tepat tuk mendeskripsikannya. Tapi yang jelas, kalo ada yang mau ngadain pertandingan sepak bola di padang rumput ini, maka waktu 2x45 menit tak akan pernah cukup, meski cuman ngebuat satu gol aja.hehe..

Kali ini tak terlihat pemukiman disini. Satu hal yang sebenarnya pengen banget aku lakukan tapi kutahan. Teriak.. ya aku pengen banget teriak.

Belum selesai kami mengagumi Savana-nya Indonesia, kami sampai di padang pasir yang juga luas dan menakjubkan, tetap saja, belum kutemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Akupun serasa berada di Sahara, cuman bedanya, Sahara yang gk panas cz ternyata sepertinya hujan baru saja mengguyur si Sahara.

Fortunately, sang sopir dengan baik hati mengizinkan kami turun. Bismillah, kupijakkan kaki di atas sahara. Uuhh, senangnya. Banyak terdapat bongkahan padas berceceran di atas pasir. Sepertinya, itu bongkahan yang terlempar saat si gunung batuk. Kulihat sekeliling, gunung, bukit, gunung dan bukit. Terbayang aku berdiri di antara Rock Hill. Tentu saja, kami dengan semangat ’90 jepret sana jepret sini. Menghabiskan pose yang kami siapkan dari rumah. Uh, biar deh kalo kami dikata narsis or himagifu....

Kira² 20 menit sesudahnya n kehabisan gaya di padang Sahara, kami melanjutkan perjalanan. L 300 membawa kami kembali. Udara semakin dingin. Brrr..


Tidak sampai setengah jam, L 300 pun berhenti.. sudah banyak orang disana. Ada yang baru datang, ada pula yang sepertinya menginap dan telah menikmati sunrise. Yupz, sayang banget kali ini kami gak bisa menikmati sunrise. Maybe next time, then...

Kami turun, kami melihatnya. Ya, aku melihatnya. Si Bukit berdiri kokoh di depan kami (entah, apa ya nama gunung yang ada di sebelah kanan agak kedepan kawah bromo tuh??)

Dan si Kawah Bromo kulihat juga sedang mengepulkan asapnya.

Hehehe..mau tau bagaimana kisah kami selanjutnya??


Don’t miss it then...☺


To be continued.



D’s lovely room, November, 17th 2009 12.40 am