Hujan

Rabu, 23 November 2022

[Bicara Buku] Menyulam Penuh Cinta; Menyulam Pelangi


 Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

*** 
Menyulam Pelangi by Arina Hidayati
Beberapa hal membahagiakan; mendapat kado, misalnya. Hehe, seperti sebuah kado manis yang sy terima setahun lalu. Ya, Gaes! Ini akan menjadi sebuah catatan tentang sesuatu yang seharusnya sy lakukan setahun lalu. Ah, indah nian kado itu. Sebuah novel bertandatangan penulisnya dan dihadiahkan oleh penulisnya. Di hari ulang tahun penulisnya pula. Disampaikan oleh Pak Pos spesial yang saat kami remaja sering sy ajak ke rumah penulis novel tersebut. Nah, kurang istimewa apa coba kado tersebut? Arinnnnn, I love you, as always my dear friend :)

Thanks, My lovely Arin <3
*** 

Selain membahagiakan, membuka kemudian tenggelam membaca novel istimewa ini mengejutkan sy. Apa pasal? Karena nama karakter novelnya begitu familiar. Tentang keluarga Pak Mustofa dan Bu Fatimah. Hihi, entah bagaimana bisa nama abah dan umik mertua sy ada di novel tersebut. Berasa tuh novel mengisahkan tentang sy, nih... :D

Jadi, setahun lalu-lah sy dalam dua hari saja sudah mengkhatamkan hingga halaman terakhir kisah Gendis, si cantik putri Pak Mustofa, dan berencana segera mereview novel ini saking asiknya. Namun apa daya, ke-sok-sibuk-an sy yang aduhai membuat sy menunda-nundanya hingga hari ini. Setelah sy membaca kembali Menyulam Pelangi ini.

Berkisah tentang Annisa Gendis Mumtazah yang tinggal Bersama Abahnya, Pak Mustofa, di Desa Nglinggo. Sebuah desa perkebunan di Jogja. Pak Mustofa adalah seorang imam musholla di perkebunan. Beliau juga pekerja dan menjadi kepercayaan pemilik perkebunan teh di desa Nglinggo tersebut.

Setelah kematian ibunya, Umik Fatimah, Gendis menjadi gadis yang tak seceria seperti saat ia remaja. Namun ia tetap seorang gadis salihah nan cerdas. Meski abahnya begitu menyayangi Gendis, namun ia tetap merasa kehilangan seorang ibu dan merasa kesepian. Hal yang akan berkurang Ketika kemudian ia mengungkapkannya pada lukisan dan wayang, kegemaran Gendis. Begitulah kemudian, kecintaan Gendis pada melukis dan sosok wayang, pada suatu hari, membawanya ke Galeri Gula dan mempertemukannya dengan Dharma, seorang lelaki yang ia temui di galeri.

Di saat yang hampir bersamaan, Gendis bertemu dengan Akmal. Putra pemilik kebun teh. Akmal lelaki cerdas, baik, dan salih. Dan, Akmal jatuh hati kepada Gendis. Maka, bagaimana kemudian jika lelaki cerdas, baik, dan salih tersebut meminang Gendis kepada abah Gendis? Abah Gendis tentu Bahagia tak terkira. Gendis?

Begitulah kemudian kisah ini akan semakin menarik hingga di bagian akhirnya.

Membaca Menyulam Pelangi seakan kita akan seperti ‘menyulam’. Menjalani sebuah proses dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Karakter-karakternya seakan adalah seorang yang kita kenal sehari-hari. Tidak terlalu banyak karakter di novel ini, namun yang tidak banyak itu justru menjadi karakter yang berperan. Tema tentang kehidupan dan cinta segitiga. Tentang bagaimana jika gadis lajang dua puluh tujuh tahun dihadapkan dengan lamaran lelaki hampir sempurna namun justru lelaki lain yang tertambat di hatinya. Kepada siapa ia akan menambatkan hatinya? Sederhana dan klise, namun dikisahkan dengan begitu telaten dan sabar. Tentu ada konflik lain yang membuat kita deg deg dan penasaran akhirnya. Selain itu, penggambaran latarnya yang detail membuat sy penasaran, apakah Arin survey tempat dulu sebelum menulis novel ini? Hihi, penggambarannya membuat sy seakan sedang jalan-jalan ke Jogja juga.

Membaca novel ini juga menambah wawasan kita tentang perwayangan. Hal yang kadang membosankan di pelajaran sejarah namun menarik jika membacanya di sebuah novel, -menurut sy 😊 Ada banyak karakter wayang dikisahkan meski tidak Panjang lebar. Ada filosofi hitam yang mebuat sy kepo duluan saat membaca daftar isinya. Dan ada banyak lagi yang mebuat novel ini begitu renyah kriuk kriuk buat sy.

Hal yang perlu dibenahi mungkin hanya beberapa penggunaan tanda baca (misalkan di halaman 1: “Assalamualaikum Pak Mus… mau ambil kunci!” Menurut sy seharusnya “Assalamualaikum, Pak Mus, mau ambil kunci.”), penulisan kata (halaman 7: dikanan dan kiri menurut sy seharusnya di kanan dan kiri), diksi (halaman 7 kota pusat seharusnya menurut sy pusat kota), dan beberapa typo yang pasti akan terbenahi seiring dengan belajar dan waktu 😊Namun hal tersebut tidak begitu mengganggu isi cerita yang sangatlah menarik.

So, you deserved your best Arin. This’ a really good job, Dear. An amazing start of your dream. Keep doing your best. Selamat mengingat hari kelahiran 😊 Semoga berkah semuanya. Semoga senantiasa dalam ridlo Allah swt. Aamiin.

Menyulam Pelangi tak hanya menghibur namun mengajarkan banyak hal. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang apa yang akan kita dapatkan setelah dengan sabar kita ‘menyulam’. Maka seperti langit yang tak hanya melukiskan mendung, di sana juga ada Pelangi yang bisa terbentang cantik menawan. You love the rainbow and so do I. 😊

Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, Arin :) 

 

Judul Buku         : Menyulam Pelangi

Penulis                : Arina Hidayati

Jumlah Halaman : vi + 106 halaman

Penerbit              : Indocamp, Jakarta, bekejasama dengan Telaga Ilmu Rumah Literasi, Magetan

Tahun Terbit       : 2021

ISBN                  : 978-623-304-840-8

ISBN (PDF)       : 978-623-304-841-5

*Sebuah catatan penuh cinta 

~from Rumah Teduh with Luv

***

0 komentar:

Posting Komentar

hey, whoever are you, you can give comment to my writing. just enjoy giving me comment as long as it can be usefull for me. so, just be my on line's friends!!