Hujan

Minggu, 26 Mei 2019

Ketika Saya Online di Bulan Ramadhan


Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

***

Mom, masih online kan saat puasa di bulan Ramadhan kali ini? Hihihi... pasti iyes, lah. Mommy milenial kan ya kan yaaaa :) Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang kebaikannya akan dibalas dengan pahala berlipat ganda. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang seharusnya dipenuhi dengan ibadah yang istiqomah.


Jumat, 24 Mei 2019

Amalan di Bulan Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

***

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan istimewa yang pasti sudah begitu banyak diketahui kebaikannya bagi ummat Islam. Bulan Ramadhan ada bulan berpuasa, bulan penuh kebahagiaan, bulan ibadah, dan bulan penuh hikmah. Saat Ramadhan, kebaikan yang dilakukan seseorang akan dilipatgandakan pahalanya. Saat bulan Ramadhan, tidur pun dibalas dengan pahala (tentu saja tidurnya orang yang berpuasa). Saat bulan Ramadhan, bau mulut orang yang berpuasa menurut Allah akan lebih harum daripada bau misik. Saat bulan Ramadhan, ampunan Allah seakan mengalir terus untuk hambaNya yang memohon. Secara lengkap tentang istimewanya bulan Ramadhan bisa dibaca di sini.

Sebegitu istimewanya Bulan Ramadhan, maka sayang sekali, kan, jika dilewatkan hanya dengan menahan lapar dan dahaga saja? Alangkah baiknya jika selama bulan Ramadhan ini kita mengisi dengan berbagai kegiatan positif yang tentunya semua karena Allah. Lantas, amalan apa saja yang bisa kita lakukan? Berikut ini adalah beberapa amalan yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan.

1. Bangun untuk sahur

Sahur adalah hal sunnah yang di dalamnya penuh keberkahan. Begitu anjurkannya seorang yang berpuasa untuk makan sahur dan mengakhirkannya. Hikmah dari makan sahur tentu adalah kebaikan diri secara fisik sehingga seseorang bisa kuat berpuasa

2. Memperbanyak membaca al Quran

Ramadhan adalah syahrul Qur an; bulan di mana Al Qur an diturunkan. Banyaknya seseorang yang tadarrus al Qur an dan berbondong untuk menghafalkannya serta mengkhatamkannya di bulan Ramadhan adalah merupakan tanda bahwa istimewa sekali membaca Al Qur an di bulan Ramadhan

3  Memperbanyak beramal shalih

Beramal shalih atau berbuat kebaikan di bulan Ramadhan memang dijanjikan dengan pahala berlipat ganda. Jika berbuat baik di bulan selain Ramadhan saja begitu disukai oleh Allah, apalagi dilakukan di bulan Ramadhan. Amal shalih tersebut bisa termasuk memberikan sedekah, mengeluarkan infaq, menolong muslim yang lainnya, dsb.

4. Memperbanyak ibadah kepada Allah

Ada ibadah yang hanya bisa dilaksanakan saat Ramadhan. Misalnya: salat tarawih. Maka, begitu rugi jika seseorang meninggalkan salat tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Ibadah lainnya berupa salat sunnah (dukha, tahajjud, qiyamul lail saat mencari lailatul qadr, dsb).

5. Membayar zakat

Zakat yang wajib dibayarkan adalah zakat fitrah. Tentang penjelasan zakat fitrah ada di postingan sy berjudul Menjadi Dermawan di Bulan Ramadhan

Ya, itulah beberapa amalan yang bisa dilakukan. Ada yang khuaus dilaksanakan di bulan Ramadhan dan ada yang bersifat umum. Bagaimana pun, amalan tersebut adalah karena Allah dan membuat hubungan antara Tuhan dengan manusia baik serta hubungan manusia dengan manusia juga menjadi baik.

*tulisan inidiikutkan dalam blog challenge oleh #bloggerperempuan dalam #30HariKebaikanBPN

#RamadhanHarike 19

~from Rumah Teduh with Luv

Kamis, 23 Mei 2019

Mudik Asyik

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

***

Salah satu hal yang identik dengan lebaran adalah mudik. Yess, Gaes.. MUDIK. Pasti saat mudik atau pulang kampung merupakan saat yang sudah sangat terencana dengan baik; terencana secara moril, spirituil, and pastinya materiil. Hihi.. iya sih iyya, bagi yang mudik saja. Bagi yang rumahnya dekat orang tua, dekat mertua, tak merantau di luar kota, tak sedang jauh dari keluarga, mungkin mudik hanya ada di cerita rekan-rekannya dan menjadi angan-angan saja. That's, Gaes! Disyukuri saja ya kalau Anda; mommy-mommy kece, termasuk masyarakat yang mudiknya bahkan bisa hanya jalan kaki langsung cus nyampai. Begitulah, kadang pengalaman tidak harus dialami sendiri kan ya kan yaaa. Ingat, Mommmm.. ada lhoh orang di luar sana yang merana karena saat hari raya tidak bisa mudik dan bertemu keluarga entah karena alasan apa. Ada. Dan mungkin mereka baru bisa mudik setelah tiga atau lima tahun. Kasihan, kan!

Oke. Kembali ke cerita mudik. Tradisi pulang kampung saat hari raya memang dialami sebagian besar masyarakat. Ada yang jauh, cukup jauh, dekat, dan cukup dekat. Karena itu, seperti sy tulis di atas, ada beberapa orang yang entah karena alasan jarak atau dana atau apa terpaksa tidak bisa pulang kampung saat hari raya. Bersyukur alhamdulillah, sy termasuk orang yang bisa mudik di setiap hari raya. Sy punya pengalaman mudik dan rempongnya jelang mudik. Saat masih nyantri dan saat sekarang ini (meski sebenarnya yang sekarang ini 'mudik' sy mudik dalam tanda petik). Seberapapun jarak yang ditempuh saat mudik, persiapannya pun juga rempong, Gaes! Jadi jangan sepelekan mudik yaa. 'Halah, dekat juga pake acara ribet mo mudik sgala',  itu misalnya. :D

Sy lahir dan besar di desa hingga kemudian saat di Sekolah Menengah Atas sy merantau ke kota. Jauh, kah? Ya, menurut sy waktu itu. Jarak tempuh sejam lebih dengan sepeda motor dan hampir dua jam jika naik angkot bisa sy katagorikan jauh, kan, ya? :) bersekolah di sekolah umum (MAN Malang 1 angkatan 2004, hehe.. adakah mommy mommy or pembaca yang teman sesekolah sama sy?) dan sambil mondok di pesantren membuat sy tidak harus pulang pergi setiap hari dan well, saat mudik pun menjadi saat asyik yang dinanti sepanjang tahun *tsah! Tahun pertama, kedua, dan ketiga sy menunggu jemputan untuk pulang dan diantar saat balik pesantren. Tapi setelahnya, saat sudah kuliah, sy pun sudah terbiasa ngangkot untuk mudik dan balik. Alhamdulillah, sy termasuk mahluk yang enjoy enjoy aja tuh tinggal di pesantren yang penuh keajaiban ehhh.. gak ding, penuh peraturan. Salah satu peraturan pentingnya adalah hanya bisa pulang saat libur pesantren; yakni saat hari raya (H-9 s/d H+9) dan setelah ujian diniyah (yang dilaksanakan pas sekolah gak libur. Heu.. jadi tetep gak bisa pulang, deh!). Karena berharganya waktu mudik, maka mudik dan segala kerempongannya menjadi asyik, Gaes! ;)

Mudik asyik harus sudah dipersiapkan sematang mungkin, lho! Antara lain: membersihkan semuanya. Dari mulai pakaian (jangan sampai ada pakaian kotor yang akan ditinggal sekitar dua minggu), lemari dan isinya (pastikan rapi dan semuanya saved), kamar (ini dikerjakan bareng sama teman sekamar), dan penting: pastikan barang yang akan dibawa mudik sudah masuk ke dalam ransel. Gak usah bawa pakaian yang dipakai di pesantren, biar ranselnya gak terlalu sengsara.. hehe. Oh ya, pastikan pula membawa beberapa buku pelajaran sekolah (hihi..ini sy bingit). Malam haru jelang mudik, kami saling bercerita dan bergadang bersama teman seakan setelahnya kami akan terpisah dalam waktu yang lama (haha.. padahal hanya sua minggu). Besoknya, kami akan berbondong antri mengisi buku dan kartu pulang; pastikan tidak terlambat balik pesantren). Setelah berdoa dan berpamitan kepada Pak Yai, waktunya menunggu jemputan..duh sensasi dah dig dug mau pulang benar-benar asyik.

Saat sudah kuliah, hampir tak jauh beda sebenarnya. Sy juga sempat tinggal di asrama wajib maba UIN selama setahun. Setelah bebas asrama wajib, sy kembali lagi tinggal di pesantren. Usia yang beranjak dewasa dan pengalaman beberapa tahun menjadi penghuni kota membuat sy tak lagi mudik dijemput Abah. Tapi ngangkot. Persiapan mudik dengan angkot yang hanya tiga kali ganti angkot tidaklah seberat teman-teman yang harus naik bus atau kereta api. Sy perhatikan mereka harus bersiap lebih ekstra karena harus sudah membeli tiket di beberapa hari sebelumnya kalau perjalanan mudik mereka tak ingin tertunda. Mudik naik angkot juga asyik karena sy bisa sambil menikmati perjalanan yang muter muter kota dulu. Hehe. Karena itu sy harus memastikan untuk tidak membawa banyak barang dalam ransel. Biar tidak berat seperti Dilan menahan rindu *ehh.. apaan coba!

Itu mudik asyik saat masih nyantri yang untuk baliknya harus benar-benar memaksa diri karen jujur, Gaes! Kalo udah di rumah tuh rasanya jadi gak pengen balik ke pesantren. Hehehe.. kehidupan penuh kemudahan di rumah terlalu nyaman untuk berganti menjadi mandiri kembali dan bisa survive di pesantren. Alhamdulillah, sy melewati tujuh tahun merantau di luar kota dengan penuh hal-hal bermanfaat yang menyenangkan.

Lulus kuliah sy pamit pondok dan mulailah mengabdi di salah satu yayasan di desa. Beberapa tahun pun tak ada cerita mudik melainkan cerita kopdar dan reunian di waktu senggang. :) Hingga lima tahun berikutnya sy menikah dan pindah ke rumah si Mas.

Rumah Teduh kami tak begitu jauh sebenarnya, hanya sekitar 11 kilo-an. Apalagi setiap hari sy masih mengajar di yayasan yang lama. Jadi hampir bisa dipastikan waktu pagi hingga sore sy ada di desa sy dan malam hari baru pulang ke rumah. Hampir begitu setiap hari kecuali hari libir tentunya. Namun tetap saja selalu ada cerita mudik di hari raya.

Lain lubuk lain ikannya. Meski hanya berjarak sebelas kiloan ternyata tradisi hari raya dua tempat tersebut bisa berbeda, Gaes! Di desa sy sekarang, masih ada tradisi kenduren satu kampung door to door. Jadi setiap hari raya sy harus bangun sebelum shubub untuk memasak, menyiapkan berkat kenduri, menyiapkan anak-anak, si Mas, dan sy untuk salat 'Id, dan menyiapkan mudik ke rumah orangtua. Ah.. sy berasa jadi orang paling sibuk saat itu. Selepas salat 'Id sambil menunggu kenduri selesai, sy membersihkan rumah dan beberes. Rumah Teduh kami terletak paling ujung, jadi rumah kami adalah rumah terakhir yang didatangi kenduri bergiliran tersebut. Daannn...kabar baiknya adalah Mas sudah datang dengan membawa bungkusan besar berisi berkat dari tujuh belas rumah yang tadi sudah bergiliran kenduri. Isinya? Nasi dan lauk pauk. Alhamdulillah. Rizki dari Allah. :) dan diapakan nasi dan lauk sebanyak itu? Hihi... itu urusan nantinya, karena setelah acara kenduri selesai adalah waktunya mudik ;) Well, sesegera mungkin sy menyiapkan diri dan anak-anak untuk mudik ke rumah orangtua. Alhamdulillah, tetangga sudah hafal. Jadi kalo ada tamu saat itu dan rumah terkunci; maka tetangga akan bilang: mb Dewi mudik. Haha.. padahal tiap hari juga udah ke rumah orangtua sih. Karena itu yang ini 'mudik' dalam tanda petik.

*tulisan ini diikutkan dalam blog challenge oleh #bloggerperempuan dalam #30HariKebaikanBPN

#RamadhanHari Ke 18

~from Rumah Teduh with Luv

Rabu, 22 Mei 2019

Ramadhan Saat Masa Kecil

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

***

Ramadhan bagi anak-anak adalah salah satu momen yang selalu dinanti dan juga untuk dikenang -unforgotable-. Karena saat Ramadhan adalah saat jam sekolah menjadi lebih pendek, saat kegiatan mengaji libur (haha, duluuuuu.. mengaji rutin di tpq diganti tadarusan di masjid), saat dapat uang saku tapi gak dipakai jajan, saat bisa beli baju baru, saat bisa makan berbagai kue saat bantu Ibu menyiapkan kue lebaran, dan pastinya saat menuju hari lebaran tiba. Hihi.. mana mungkin ada anak-anak yang tidak menyukai saat seperti itu? Berpuasakah mereka? Iya. Ada yang berpuasa setengah hari terus sudah. Ada yang berpuasa setengah hari dan lanjut lagi sampai maghrib. Dan ada yang berpuasa penuh yang memang patut dikasih standing applause karena sy termasuk yang ini, lhoh!! *hehe..maap maruk.

Well, mengingat kembali saat berpuasa di masa anak-anak tetiba membawa sy ke masa sekitaran kelas 2 atau 3 MI, sy cukup baik mengingat saat itu. Ah, sy bahkan sudah mulai berpuasa penuh. Kuat kah? Iyes. Sepertinya sy sudah tersugesti untuk kuat berpuasa saat dulu Ibu bercerita bahwa sy dilahirkan di hari ke dua puluh satu Ramadhan. Saat itu dini hari waktunya orang sahur. Nenek sy bahkan makan sahur di rumah bersalin yang lumayan jauh jaraknya dari rumah kami, beda kecamatan pula. Ya, karena cerita itu sy selalu merasa bersemangat untuk bangun dan makan sahur serta kemudian berpuasa hingga sehari penuh. Dan istimewanya juga, sy bukan tipe pembangkang yang diam-diam hobi mokel (makan secara sembunyi-sembunyi saat berpuasa). *hihi..maapkan maruk lagi, Gaessss!

Setelah bangun sahur sy pergi ke masjid dekat rumah untuk melaksanakan salat Shubuh berjamaah. Akan ada kultum di sana. Yes, sy suka mendengarkan kultum..hihi.. sampai saat ini sy suka mendengar kultum. Bagi sy, ceramah tidak harus panjang dan lama hingga terkantuk-kantuk, tapi sampaikan yang penting secara ringkas dan padat. That's all. Maka setelahnya sy juga akan bertemu dengan teman-teman sebaya untuk janjian jalan-jalan pagi. Dan ternyata tradisi itu masih ada hingga sekarang, Gaes! Kebayang gak sih jalan kaki sekitar 1 km kadang lebih lahh. Ehh.. di sini sekarang sy suka tak habis pikir dengan anak-anak. Saat puasa di pagi hari bukannya menyimpan tenaga untuk sehari nanti eh ini malah di pagi hari sudah dihabiskan untuk jalan kaki dan jauh pula. Di jalan nantinya memang akan banyak bertemu teman-teman lain yang sebaya. Kadang malah bisa mampir ke pasar untuk membeli something untuk dimakan saat berbuka nanti. Duh duh.. perencanaan yang terlalu pagi. Tapi itu kenyataannua, sih, yang dilakukan hampir sebulan penuh. Padahal tuh yaa.. di luar Ramadhan jarang bingit ada yang jalan-jalan pagi kalau tidak saat hari libur sekolah aja, sih!

Saat Ramadhan juga jam sekolah menjadi lebih pendek. Yes, ini peraturan pemerintah karena sekarang saat sy menjadi guru sy baru tahu bahwa sudah ada kalender pendidikan yang ditetapkan di awal tahun ajaran baru, jadi sekolah tidak boleh seenaknya sendiri menentukan kegiatan belajar mengajar, kegiatan lain, dan waktu libur. Selain lebih pendek, kegiatan belajar pun seakan lebih santai di Bulan Ramadhan. Apalagi hanya beberapa hari saja pelajaran berlangsung karena akan ada kegiatan pesantren Ramadhan yang diisi dengan beberapa kajian dan kegiatan zakat fitrah yang kemudian berakhir dengan buka bersama. Setelahnya, libur, dunk! Haha..dari dulu hari favorit sy tuh ya hari libur, Gaes!

Pulang sekolah, salat Dhuhur, tidur siang. Nikmatnya saat itu. Memang masa anak-anak seakan masa tanpa beban kecuali ada tugas sekolah. :) Saat bangun, akan ada film kartun yang biasa sy tonton sambil membantu Ibuk menyiapkan menu berbuka atau sambil momong adek. Eh, Gaes!! Saat itu kayaknya lagi booming kartun sailormoon atau wedding dress yang diputar sore hari. Jadi belum ada acara spesial Ramadhan seperti saat ini yang bisa sehari full. Hihi.. sy besar dengan berbagai fantasi princess dan superhero Jepang. Bahkan kalau saja saat ini sy punya banyak waktu luang, mungkin sy akan tetap menjadi fans-nya K-Pop drama, lho! :D Setelah selesai membantu Ibuk sekadarnya sy akan bersiap mandi, pergi ke masjid (dan tadarus sebentar), dan bermain bersama teman (haha..ini yang lama; gobak sodor, betengan, petak umpet, dan berbagai permainan yang menguras keringat, Gaes! Heran bingit lah sama pikiran anak-anak yang kayak ginih inih!). Pulang menjelang Maghrib biasanya sy ngisis supaya keringat kering sambil mengecek menu di meja makan. Hmmm.. seakan sebentar lagi semua yang tersaji akan ludes lumer ke dalam mulut. Nyatanya...

Ya, nyatanya saat berbuka tiba dan makan ya tetap secukupnya. Perut juga tidak mau dipaksa kali yaa. Hihi. Menunggu salat Isya dan Tarawih seakan tak butuh waktu lama. Ditinggal mengaji sebentar, nyemil, nonton tivi, alhamdulillah azan Isya berkumandang. Bergegas kami sekeluarga akan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Ah... senang rasanya berjamaah di masjid yang penuh dengan orang dan anak-anak. Ramai tak seramai biasanya. Dan karena menemani Ibuk tadarusan, sy biasanya pulang hampir jam sembilan malam. Eh.. kadang sihh. Karena lebih seringnya lebih tergoda untuk pulang duluan karena tergoda nonton tivi. Hehe.

Di hari-hari tertentu (biasanya setelah hari ke duapuluh satu Ramadhan), Ibuk sudah mulai sibuk membuat kue lebaran. Kami anak-anaknya akan dengan asyik dan senang hati menemani. Pun ada saat di mana Abah Ibuk membawa kami ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju baru. Duh, senangnya masyaAllah. Dulu bagi kami membeli baju baru identik dengan lebaran. Jadi jangan bayangkan seperti saat ini yang dikit-dikit ke online shop terus order baju yang lucu yang unik yang promo yang ini itu.. hehe. Zaman dahulu membeli baju itu istimewa, Gaes! Sepulangnya, sy dan adek akan begitu kemaruknya mencoba baju baru tersebut; tak hanya sekali dua kali. Hihi. Apalagi kalau ada kerabat yang baik hati membelikan kami sendal atau sepatu atau bahkan setelan baju baru. Wahhhhhh..senangnya bukan main kalau punya lebih dari sepasang!

Ya, Ramadhan saat masa kecil dulu sungguh indah dikenang. Tak ada gadget ataupun acara tivi sebanyak sekarang. Pun suasana Ramadhan begitu terasa, suara petasan dan juga suara tadarusan hingga larut malam.

Anda, Gaes! Pasti Ramadhan saat masa kecil Anda juga tak kalah mengesankan, kan?

*tulisan ini diikutkan dalam blog challenge oleh #bloggerperempuan dalam #30HariKebaikanBPN

#RamadhanHarike 17

~from Rumah Teduh with Luv