Hujan

Sabtu, 03 September 2011

[Catatan Film] First Love; a Little Thing Called Love

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
***
 "Siapapun kita... pasti punya seseorang yang kita suka secara diam-diam. Saat kita ingat orang itu, kita merasa seperti sesak di dada. Tapi kita terus menyukainya."

Film ini dibuka dengan gerbang besar Museum Siam (dalam bahasa Thai tulis, mirip bahasa Sansekerta:)) yang kemudian menampilkan pameran lukisan dengan beberapa detik scene di dalamnya dan...taraaaa.... penonton diseret untuk flashback ke beberapa tahun sebelumnya.


Berkisah tentang Nam, seorang remaja kelas M-1 (Setara kelas VII) yang tinggal bersama ibu dan seorang adiknya; Pam. Ayahnya seorang asisten koki di USA dan sudah lima tahun berada di sana.

Nam mempunyai tiga sahabat baik; Cheer, Gei, dan Nim. Mereka berempat dikenal sebagai anak-anak tak populer, tak cantik, dan tak pintar. Namun begitu, mereka bukanlah empat remaja yang minder dengan segala kekurangan mereka. Kehidupan mereka pun layaknya seperti remaja yang lain. Belajar bersama, main, juga jatuh cinta pada para senior yang mereka anggap keren. Termasuk Nam yang diam-diam menyukai seorang murid baru di kelas M-4. Shone, begitulah mereka memanggilnya. Pemuda tampan, pemain sepak bola, berbakat dalam dunia fotografi, baik hati dan pintar; satu paket idola yang lengkap.

Berbekal buku ‘9 Resep Cinta Untuk Pelajar’, Cheer, Gei, dan Nim mulai ‘rajin’ menarik perhatian para senior keren versi mereka. Dan Nam.. Nam berlagak jual mahal dan acuh. Alih-alih bergabung dengan ketiga sahabatnya untuk mengerubuti buku bersampul merah itu, ia lebih asyik mendalami ‘Menjadi Juara 1 di Ujian’ karena kerinduan besarnya pada sang ayah yang menjanjikan tiket ke USA jika Nam atau Pam bisa meraih juara pertama di sekolahnya.

Meski tampak tak peduli dengan ketiga sahabatnya yang berkutat dengan 9 metode menarik perhatian senior dalam buku yang tiba-tiba saja mengalahkan buku pelajaran mereka, toh diam diam Nam mempraktikan ‘jurus jitu’ yang ia curi dengar dari diskusi sahabat-sahabatnya itu. Mulai dari metode bintang Yunani, hipnotis Bangsa Maya, kado diam-diam ala Skotlandia, mempercantik diri khas Gipsy dan banyak lainnya.

Berbagai cara dilakukan Nam agar dapat menarik perhatian Shone yang juga menjadi ‘incaran’ beberapa temannya.

Ketika festival sekolah, Nam nekad bergabung dalam audisi penari (yang terkenal dengan para penari cantik-nya) asuhan Guru Om. Tapi sayang, belum juga namanya dipanggil, ia sudah ditolak mentah-mentah. Tak ada pilihan lain, ia pun kemudian terpaksa harus menyanggupi permintaan Guru In untuk bergabung dengan sanggar drama (yang justru sepi peminat karena ke’tidak-populer’annya). Tak disangka, justru dari situ Nam mulai agak populer. Kepercayaan dirinya meningkat. Nam tak lagi menyembunyikan perasaan sukanya pada Shone dari ketiga sahabatnya. Bersama-sama mereka memperjuangkan rasa suka Nam.

Nam berubah. Ia berubah lebih baik. Ia juga menjadi mayoret drumband di sekolahnya. Berlatih sangat keras dan tampil mempesona yang membuatnya menjadi lebih populer. Mengejutkan, seorang murid baru; Top menyatakan rasa suka padanya. Top sahabat baik Shone. Nam tak pernah menjawab ‘iya’ pada Top yang justru menganggap diamnya Nam adalah iya. Huft!

Mulailah kedekatan Nam dengan Top membawanya lebih dekat dengan Shone. Ah.. kedekatan yang seringkali mendebarkan dada Nam.

Beberapa waktu berlalu hingga Nam menyadari ia tak seharusnya memanfaatkan kedekatannya dengan Top untuk kepentingannya. Ia menjauh dari Top dan mengatakan kalau sebenarnya ia tidak pernah menyukai Top. Kontan. Top patah hati. Ia marah dan membenci Nam. Parahnya, ia pun mengultimatum Shone untuk tidak pernah berhubungan dekat dengan Nam. Shone mengiyakan.

Waktu berlalu. Nam berusaha melupakan Shone. Ia fokus belajar. Pun begitu pula dengan Shone. Hingga hari kelulusan tiba.

Dengan dukungan dari ketiga sahabatnya (yang melihat kesedihan Nam meski berpura-oura sudah melupakan Shone), akhirnya Nam memberanikan diri menyatakan cintanya pada Shone. Di dekat kolam renang di hari kelulusan itu, Nam mempraktikan metode istimewa dari teman-temannya. Metode ke 10, dari Thailand, dengan berbekal sekumntum mawar putih, sebuah pernyatan cinta yang paling tulus. Ia mengatakan segala hal yang ia rasakan, tentang tiga tahun cinta terpendamnya. Nam menangis dan lega. Namun, terlambat, di saku baju Shone sudah tertulis, ‘Pin cinta Shone’. Shone baru saja menerima pernyataan cinta. Nam, ia menangis dan terus menangis tapi tetap saja terucapkan juga kalimat selamatnya. Nam berlari, berpapasan dengan Pin dan memeluknya. Nam tahu, Pin memang gadis terbaik yang ia kenal.

Malam ketika Shone sampai di rumah, sebuah kabar membahagiakan datang padanya. Ia diterima di Liga Junior Bangkok Glass, sekolah sepak bola impiannya. Ia bahagia sekaligus sedih secara bersamaan.

Perfect!
Nam akan menyusul ayahnya ke USA dan Shone melanjutkan ke Bangkok Glass.

***
Sebuah kisah yang mengharukan. Mencintai secara diam-diam. Ah, saya tahu bagaimana rasanya. Bedanya, saya tidak pernah seberani Nam untuk menyatakannya. Bedanya pula, Nam hanya menahannya untuk tiga tahun, dan saya.. huft! Sedikit lebih lama sari itu..ya, sedikit. Bedanya lagi, Nam mengalaminya sekali. Dan saya, dua kali. ^^v
***

Bagi pecinta happy ending, don’t worry! Kisah yang terbungkus dengan sangat entertaining ini (ehm..banyak adegan yang bikin nyengir, lho..) ditutup dengan akhir yang menyenangkan, kok..meski jujur, cukup menguras air mata.
Tentang bagaimana Nam berjuang merubah ‘diri’nya, tentang Nam yang sempat diacuhkan ketiga sahabatnya dan ia berusaha kembali, tentang Nam yang begitu tegar menghadapi realita.

Juga, tentang Shone yang ternyata melakukan hal yang sama. Ia bahkan sudah menyukai Nam sejak Nam belum populer. Tentang ia yang diam-diam membidik Nam dari berbagai angle. Dan tentang scrapbook cantik yang ia hadiahkan untuk Nam.

Kisah ini tentang cinta yang aneh. :)

***
Kalimat Nam di ending yang saya suka..

Dia adalah inspirasi bagiku.
Dia membuatku memakai cinta di jalan yang benar.
Dia layaknya kekuatan yang menyokongku untuk menjadi lebih baik.

­Ternyata, cinta tertolak tidak harus membuat terpuruk, kan? Tergantung bagaimana seseorang memaknai cinta.
***
Untuk Anda para penikmat melodrama, First Love [a Little Thing Called Love], film Thailand yang rilis tahun 2010 ini mungkin bisa jadi pilihan.

**PS; setelah nonton film ini, saya jadi tahu satu hal; tiap tahun kelulusan di sekolah sekolah Thailand, para siswanya (dari mulai kelas tingkat bawah sampai atas) merayakannya dengan coret-coret baju plus tanda tangan. Ehm, apa bener kayak gitu, ya?

-Pondok Kupukupu, 03092011

3 komentar:

  1. jadi inget pas nonton film ini sama temen2 di lab bahasa. gokil abis sampe ada yg nangis sgala. -___- just memorising.

    BalasHapus
  2. uh br baca lagi....anum dah nonton mb^^, endingnya happy tnyata ding. kirain sad :D

    BalasHapus
  3. filmnya mengharukan.. tp akhirnya sangaat indah :)

    BalasHapus

hey, whoever are you, you can give comment to my writing. just enjoy giving me comment as long as it can be usefull for me. so, just be my on line's friends!!