Hujan

Selasa, 22 Februari 2011

-mungkin-(Karena) Menikah Bukan Hanya Tentang Sepasang Mahluk 'Sempurna'

Nyaris.
Nyaris sempurna.


Itulah kesan yang kutangkap saat pertama kali berkenalan dengannya. Usia dua puluh enam tahun. Mahasisiwa FISIP UI. Skripsi hampir selesai. Sudah bekerja sebagai manajer promosi di sebuah perusahaan EO yang menangani acara-acara seperti; konser nasyid, launching album nasyid terbaru, sampai PH. Seorang aktivis. Dan… cakep pula!! Kurang apa lagi coba? Subhanallah…

Akh Rama. Begitu teman-teman kontrakan ataupun sesama aktivis memanggilnya. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan Rama.. Ramadan..sepertinya ia lahir di bulan yang sama denganku.. :))

Saat ini, Rama sedang kebingunganBukan. Bukan karena skripsinya yang belum kelar. Bukan karena tumpukan pekerjaan. Bukan karena kesibukan sebagai aktivis. Dan bukan karena wajah cakepnya.

Eh, bentar. Mungkin karena wajah cakepnya, ding! Ya, aku rasa karena wajah cakep beradu dengan temperamen melankolisnya lah yang membuat ia bingung. Bingung dan bertanya-tanya pada siapakah ia akhirnya akan jatuh cinta dan menikah. Ya, menikah. Hal yang menggelayuti pikirannya beberapa waktu terakhir ini. Karena desakan keluarga dan juga orang-orang terdekatnya.

Meski ikhwan, Rama bukanlah seorang yang menerima konsep perjodohan untuk pernikahannya. Ia ingin menyeleksi calon istrinya sendiri. Tanpa pacaran, tentunya, karena ia juga bukan penganut pacaran sebelum menikah. Calon istri yang ia nikahi karena cinta. Dan yang terpenting, yang sepadan dengan dirinya yang ‘di atas’ rata-rata.

***

Jihan. Ia lah akhwat yang menarik perhatian Rama belakangan ini. Adik tingkatnya yang cantik dan lembut. Berkulit putih, pipi bersemu merah, mata jeli, dan hidung mancung. Aktivis pula! Aha! Sangat cocok dengan Rama, kan? Dengan dalih membantu mencari referensi skripsi Jihan, Rama pun mulai mendekati (lebih tepatnya menyelidiki) Jihan. Dan ternyata, Jihan bukan seorang akhwat biasa. Ia penuh idealisme dan benar-benar menjaga izzahnya, hal yang semakin membuat Rama penasaran. Ulam dicita pucuk pun tiba, Rama mendapat kesempatan itu. Jihan sedang terdesak untuk menikah oleh orang tuanya. Tanpa melewatkan kesempatan, Rama akhirnya mengajukan proposal pernikahannya untuk Jihan.

Di tengah menanti jawaban Jihan, Rama dibuat terkesan oleh Ayna., seorang mahasiswi PBUD semester tujuh yang menjadi satu divisi dengannya dalam kepanitiaan acara LDK PMMI. Ayna tinggal jauh dari orangtuanya yang ada di Semarang. Ia akhwat yang tegar. Menjadi aktivis dakwah sekaligus memperjuangkan kuliah dengan beasiswanya. Seorang diri. Kekokohan, wajah sendu, dan kesederhanaan Ayna rupanya membekas di hati Rama. Mengetahui bahwa Ayna sedang berada di posisi yang terdesak untuk menikah, sama halnya dengan Jihan, Rama pun tak menyiakan kesempatan. Apa salahnya menjadikan Ayna sebagai kandidat pasangan hidup? Pikir Rama yang kemudian mengajukan proposal ta’aruf untuk Ayna.

Sesosok akhwat lagi-lagi membuat Rama terkesima. Namanya Mayla. Seorang yang tomboy, cuek, lincah dan penuh semarak. Ia cerdas, keras, namun tegas. Dan seringkali menjadi koordinator lapangan para akhwat. Bertemu dan teringat Mayla membuat Rama terhibur dan mudah tertawa. Kali ini, dengan dalih meminta bantuan untuk dicarikan pengajar teater untuk ikhwan, Rama berhasil membuat Mayla dekat dengannya. Siapa sih yang gak senang bisa akrab dengan seorang Rama? Mayla merasakan hal yang lain dari kedekatannya dengan Rama Meski ia belum berpikiran dan bahkan minder untuk menikah (karena segala kekurangannya), toh ia akhirnya runtuh dan menganggap sms-sms ‘nyaris’ romantis dari Rama sebagai hal yang sangat istimewa. Mayla terbawa. Ia jatuh cinta pada Rama.

Dan seorang lagi. Kali ini Saffiya yang ceria dan penuh senyum. Mantan vokalis band yang baru saja hijrah untuk menjadi muslimah yang lebih kaffah.mahasiswi D3 jurusan broadcast semester II yang juga seorang announcer di As Salam FM, stasiun radio tempat Rama berkenalan dengan Fia, panggilan akrab Saffiya. Rama yang punya banyak link tim-tim nasyid itu menjadi dekat dengan Fia yang sedang sibuk mempersiapkan PO konser pekan Muharram di kampusnya. Tak hanya sebatas itu, sesudahnya mereka bertambah akrab. Rama yang menganggap Fia hanya sebagai adik memberikan perhatian yang lebih untuk Fia. Membuat Fia menafsirkan hal yang lain di hatinya.

***

Sepertinya tak mudah. Aku rasa Rama juga mengalami kesulitan untuk menentukan. Lalu, pada siapakah akhirnya cinta Rama benar-benar berlabuh? Apakah Jihan yang lembut, Ayna yang kokoh, Mayla yang penuh semarak, atau.. Saffiya si belia yang senyumnya begitu rimbun? Emm.. keempat-empatnya atau justru tak seorang pun dari mereka? Kisah yang sungguh membuat penasaran dan ingin membalik tiap halamannya buat mastiin perhentian terakhir Rama. Ya.. bagaimanapun pada akhirnya Rama harus memilih.

***

Dengan bahasa yang ringan dan mengalir mb. Ela membuat pembaca novel ini (bc: aku) gak bosen. Beraneka rasa, ada greget sama Rama, kagum sama Jihan, terharu sama Ayna, tertular semangat Mayla, dan gemes sama Fia... Pokoknya kriuk!! Ada pesan dalam barisan kalimatnya. Tentang cinta dan pernikahan. (especially for a single lady like me^^) Bahwa memang, menikah itu baiknya berdasar cinta. Hanya saja, cinta seperti apa? (bisa disimpulkan kalo udah baca, lho..) Pernikahan? Ah, ayolah.. menikah bukan hanya tentang mencari mr/mrs. Perfect.. seperti yang dilakukan Rama.. *huft! * Tapi menikah, adalah menerima ketidaksempurnaan seseorang yang 'justru' bisa membuat merasa lebih sempurna.. (sempurna ala manusia biasa ) Dan lagi, berkenalan dengan Rama, Jihan, Ayna, Mayla, Fia, dkk.. membuat aku seakan tahu kehidupan cinta para aktivis di kampus, nih.. Kehidupan yang tidak pernah aku jalani.

Membaca karakter Jihan mengingatkanku pada si cantik Oki Setiana Dewi, pemeran Anna Althafunnisa dalam ketika cinta bertasbih. Sosok Ayna kugambarkan seperti Dian Sastro yang pake jilbab. Mayla.. boleh dong kubayangkan seperti Annisa dalam Perempuan Berkalung Sorban. Dan.. Saffiya kurasa akan cocok dengan Asmirandah yang berperan sebagai Vivi di KCB 2. hehe.. kali aja difilmkan.. kan bisa jadi referensi.. ato, mb. Ela mau audisi cast-nya aja?

Tapi, nothing’s perfect. Pun dalam novel ini. Aku masih menemukan (mungkin) salah ketik yang jujur membuat 'kurang' nyaman membacanya. Misal pada hal 146-147, awalnya disebutin kalo pembantu umum namanya Pak Amin. Tapi kenapa bisa jadi Pak Thohir di kalimat berikutnya? Hehe.. ato, aku yang gak mudeng? Kalopun ternyata emang salah ketik, moga aja bisa jadi perbaikan novel ini pas di cetak ulang lagi-dan lagi, gitu.. :)) ^^v piss, mb. Ela.

Covernya juga keren, lho.. aku suka banget melihat cincin yang nyangkut di huruf ‘A’..

meski jujur, kurang begitu nyaman dengan gambar empat tangan yang sedang tergapai itu. Tangan-tangan yang cantik, sih.. cuman dasar aku kurang nyaman aja.



Overall.. aku rekomendasiin novel ini. Bagus banget buat hadiah. Apalagi untuk mereka yang (ingin dan baru) bersiap untuk menikah. Mengandung hikmah, bahwa kita bukanlah mencari sosok yang sempurna sebagai pendamping hidup. Tapi bagaimana pada akhirnya menjadikan hidup kita (dengan segala kekurangan) menjadi ‘nyaris’ sempurna. (lhoh..aku udah sebutin di atas, ya??) :DD

Membaca novel ini, insyaAllah, manfaat. Amin..

Yang baca, gak rugi, deh! Aku aja begitu datang (pagi), siangnya langsung.. yummy... malem langsung khatam. ^^d


Judul : PILIHLAH AKU JADI ISTRIMU
Penerbit : Leyla Hana dan Dhinny El Fazila
Penerbit : leutikaPrio, Yogyakarta
Cetakan Pertama : Januari 2011
Tebal : viii+238 hlm

0 komentar:

Posting Komentar

hey, whoever are you, you can give comment to my writing. just enjoy giving me comment as long as it can be usefull for me. so, just be my on line's friends!!