Hujan

Senin, 20 September 2010

Mengapa Kecewa?

Mbak, mengapa kita bisa kecewa?

Itulah bunyi salah satu pesan yang masuk inbox-ku di suatu siang. Sebuah pertanyaan, -- klise--, yang sempat membuatku terdiam dan berpikir agak lama untuk menjawabnya. Bukan, tentu saja bukan karena ini adalah hal yang teramat sangat sulit untuk dijawab. Melainkan karena, --aku pikir--, pertanyaan tersebut harus dijawab dengan sesederhana dan sebijak mungkin.

Mengapa sederhana?
Karena aku yakin temanku yang mengirim sms itu pasti sedang kalut, dan ia, --masih tetap sesuai dengan apa yang aku pikir--, tidak membutuhkan jawaban panjang lebar dan rumit. Tapi yang ia harapkan mungkin adalah sebuah jawaban yang sederhana yang membuatnya sedikit lebih rileks setelah membacanya.

Mengapa bijak?
Karena aku tau temanku yang mengirim sms itu pasti butuh jawaban yang pada akhirnya biasa membuat ia tidak merasa ’berdosa besar’ karena telah ’kecewa’ entah pada apa itu. dan tentu saja, jawabanku harus bisa memberinya solusi. (’solusi’ versiku tidak hanya tentang memecahkan sebuah masalah, tapi juga meringankan beban masalah)

Oke. Setelah beberapa menit menimbang beberapa hal yang aaku pikirkan dan memilah beberapa diksi yang tepat, aku memberikan jawabanku. jawaban yang terpikir saat itu.

Kecewa? Tentu saja kita bisa kecewa karena kita manusia.. Ah, aku rasa tidak hanya kita, tapi hampir semua orang bisa kecewa. Jadi kecewa kayaknya bukan hal langka, deh.. Kita kecewa karena kita telah berharap lebih pada hal itu, --hal yang akhirnya membuat kita kecewa Itulah mengapa, sepertinya bukan hal yang baik kalo kita membumbungkan harapan yang terlalu tinggi pada sesuatu,-- apapun itu. eitz, tentu saja itu gak berarti kalo kita gak boleh optimis dan bermimpi. Aku selalu berusaha optimis dan bermimpi setinggi puncak everest. Tapi satu hal yang aku tekankan pada diriku sendiri,bahwa pada akhirnya DIA yang menentukan. Bila ternyata apa yang ada ato yang terjadi ternyata tidak sesuai harapan, maka aku selalu berusaha meyakinkan bahwa hal itu bukan yang disiapkan Tuhan untukku. Pasti ada hal istimewa yang menungguku, dan aku harus segera menjemputnya. Tak masalah kita kecewa, --sebetar saja--, hanya sebagai sebuah reaksi. Hukum alam aksi-reaksi tetap berlaku, kan? Jadi intinya, kalo kita tidak ingin kecewa yang teramat sangat, kita hanya tidak boleh melampaui batas mengharapkan sesuatu. Gimana, sepakat?

Ya, jawaban yang pada akhirnya tidak begitu sederhana dan tidak begitu bijak, tapi malah sedikit panjang lebar dan rumit. Hehehe.. maklum, seorang awam kayak aku tentu saja tak bisa menjadi penasehat yang begitu baik. Tapi agar aku tak kecewa pada diriku sendiri, aku tersenyum dan berkata dalam hati ’well, yang terpenting aku berusaha sebaik mungkin menjawabnya, kan?’

****Oh ya, tentu saja jawaban sebanyak 173 kata itu tidak aku jawab dalam satu kali sending message, tapi aku buat bersambung ala sinetron stripping Indonesia gitu. Dan lagi, aku juga menggunakan bahasa sms yang baik dan benar, jadi tolong jangan bayangkan aku menulisnya lengkap dan detail ala pembukaan UUD ’45, ya..!

So, kembali pada soal kecewa, --atau mungkin mengecewakan--, adakah yang mempunyai opini lain?

0 komentar:

Posting Komentar

hey, whoever are you, you can give comment to my writing. just enjoy giving me comment as long as it can be usefull for me. so, just be my on line's friends!!